langkah berayun semakin jauh
mencari rindu tak kunjung bertaut
sepanjang jalan menapak siang dan malam
jemari pun lunglai
bibir terkatup, mata bergeliat nanar
bibir terkatup, mata bergeliat nanar
butiran air lalu menitik
membasahi tapak kaki yang lebam
sekian lama terpanggang ambisi
tercabik terumbu karang berduri
dalam pasang surut gelombang
samudera jiwa yang angkuh
saat sayup-sayup untaian doa
terpanjat menyeruak angkasa
oleh para hamba yang terus menadah
tambahan bekal perjalanan
kembara yang teramat panjang
sebentar singgah di persimpangan waktu
basah bersimbah berkah abadi
betapa ingin hati ke sana
bersimpuh damai kehadirat Ilahi
apa daya jiwa terlanjur lacur
menanti rindu kapan berpagut
akankah selama petualangan
atau memang tiada pernah samasekali
Surabaya, Oktober 2009