Satire Keheningan


kesunyian menggamit jejak ini menemu sepimu
hingga tersesat jauh ke tengah belukar hening
ndak ada suara, ndak ada rasa
ndak ada raga, ndak ada jiwa
selain irama sepiku berpadu dengan kesunyianmu
dengan mayor, kres, dan minor petikan dawai perasaan
sementara asa dan daya kita
menari-tari di punggung waktu
gemulai, mulai menghentak, binal, lalu terkapar
luruh membisu, bermandi peluh juga senyum
kadang merembes bulir airmata serta gejolak batin tertahan
namun saling menjaga, puaskan dahaga
habiskan kuluman masa

tanpa sadar, dalam gumulan kebersamaan, mesra
darah perlahan mengucur, lantas menggenang
menjelma alas kelangenan maya kita
bersusul perih terasa di ulu tubuhku
oh my God! ada luka menganga di sana,
kesadaran tersentak
duh my Gusti! kenapa jemari lentikmu bersimbah darah?

sekeliling berputar-putar di pelupuk mata
lambat-laun hanya bentang cahaya putih,
sejenak kemudian gelap
hening, teramat dingin, akhirnya beku
kulihat seringai membasahi bibir sensualmu
dalam tanya aku membisu
belum pernah terasa kesejukan sedemikian melenakan
sesudahnya

Beranda Rantau, 26.4.12
Bandar Lampung 16.00
Tambahkan Komentar

2 comments