Mutiara Laut Selatan: Dari Nusantara hingga Hollywood dan Dunia

sumber: www.liputan6.com

GENERASI era 70-an tentu familiar dengan tembang lawas Kolam Susu yang dipopulerkan grup musik Koes Plus dulu. Bait-baitnya jenaka yang sesekali masih terdengar sekarang, menggambarkan betapa Indonesia dianugerahi kekayaan alam yang luar biasa. Itu bukan isapan jempol belaka, tetapi sudah menjadi rahasia umum kancah pergaulan bangsa-bangsa sejagat. Sebarannya antara lain di sepanjang perairan Nusantara.

Begitu ajib kekayaan bahari negeri ini, hingga Koes Plus menganalogikan bukan lautan, hanya kolam susu. Metafor yang menyiratkan oase guna mereguk kesejateraan hidup. Kail dan jala cukup menghidupi rakyat. Tiada badai dan topan yang ditemui. Bahkan, ikan dan udang menghampiri sendiri.

Ikan-ikan yang tersedia di laut pun memang serasa tiada habisnya. Baik sebagai menu konsumsi warga setempat dan masyarakat berbagai daerah, maupun sumber penghidupan para nelayan. Kandungan gizi berikut nilai jualnya tak kalah dibandingkan ikan-ikan negara luar. Dalam hal ini, Indonesia terbilang pemasok sektor perikanan yang diperhitungkan.

Fakta demikian bahkan membuat negara lain tergiur untuk turut bancakan mengeruk keuntungan. Dengan berbagai cara yang ilegal, kapal-kapal asing yang tak sedikit pula milik korporasi, mengangkut ikan-ikan dari wilayah samudera tanah air. Bukan hanya itu, aksinya dengan tindakan dan bahan-bahan yang potensial merusak ekosistem serta lingkungan.

Akibatnya, ironi menyandera rakyat terutama kaum nelayan selama ini. Anak-anak bangsa urung menikmati kekayaan hasil laut, termasuk ikan sebagaimana mestinya. Ketika negara maritim sekaliber Indonesia kerap mengalami ”paceklik”, bahkan masih harus impor ikan-ikan untuk memenuhi kebutuhan domestik. Lebih menyesakkan dada, praktik illegal fishing dan semacamnya bukan hanya lantaran minimnya perhatian dari Pemerintah sebelumnya, tetapi juga ndilalah melibatkan oknum-oknum warga negara sendiri.

Patut diapresiasi langkah penentu kebijakan, yakni Kementerian Kelautan dan Perikanan di era Pemerintahan Jokowi kini, dalam membenahi kondisi tersebut. Misalnya, gebrakan progresif Menteri Susi menggencarkan pemberantasan illegal fishing disertai penenggelaman kapal-kapal asing sarana pelakunya yang perlahan berbuah pencapaian melegakan. Dari perkembangan mutakhir, stok ikan meningkat dan ekspor perikanan pun melaju sampai 4 persen.

Menyingkap Tabir Mutiara Laut Selatan Indonesia
Selain potensi ikan yang melimpah, sebenarnya laut Indonesia juga memendam ragam kekayaan lain yang teramat menggiurkan. Yaitu, butiran Mutiara Laut Selatan yang populer dengan sebutan Indonesian South Sea Pearls (ISSP) dan belum diketahui banyak kalangan umum. Omong-omong, masih ingat serial komedi layar kaca berjudul Jinny Oh Jinny yang mengisahkan jin perempuan cantik, penunggu laut penghasil mutiara yang menghuni rumah kerang?

Walau mungkin tontonan itu sebatas hiburan dan bukan maksud tahayul, namun terselip pesan mengenai pengenalan dan amanah pelestarian mutiara. Layaknya sudut pandang budaya tentang mitos ”Nyi Roro Kidul” yang bermaksud, agar manusia tidak gampang melakukan perusakan alam. Jadi, mutiara tak terpungkiri menjadi kekayaan alam Pertiwi.

Nah, jenis dari Mutiara Laut Selatan tersebar di perairan tropis Australia bagian Utara-Barat, Filipina bagian Selatan, Myanmar dan Indonesia secara global. Mutiara ini bisa hidup di seluruh perairan Nusantara antara lain Sumatera Barat, Lampung, Bali, NTT, NTB, Sulawesi Utara, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Tengah, Gorontalo, Maluku, Maluku Utara dan Papua Barat. Lebih jauh, empat fakta berkenaan dengan eksistensinya.

4 Fakta Seputar Mutiara Laut Selatan
Pertama, industri bernilai milyaran dolar. Bisnis penjualan Mutiara Laut Selatan bisa mendatangkan pendapatan hingga milyaran dolar. Australia misalnya, dapat meraup sekitar 200 juta dolar. Harga grosirnya diperkirakan berkisar antara 100-4000 dolar. Bandrolnya termahal ditentukan ukuran, bentuk, kulit, warna dan kemilaunya. Sedangkan harga eceran untuk kalung berukuran 16 inch bisa mencapai 40.000 sampai 60.000 dolar Amerika.

Kedua, Indonesia sebagai produsen terbesar dunia. Indonesian South Sea Pearls (ISSP) sudah terkenal kualitasnya. Hanya saja, masih banyak pihak dalam negeri yang belum tahu kualitasnya, sehingga cenderung beredar di luar negeri. Celakanya lagi, keberadaannya sulit teridentifikasi di pasar internasional. Indonesia memasok sekurangnya 50 persen kebutuhan mutiara dunia. Jajaran Kementerian KKP menegaskan nilai perdagangannya nangkring di posisi dua, serta terus berupaya menapak posisi puncak.

Ketiga, pengenalan budidaya mutiara telah lama berlangsung. Indonesian South Sea Pearls (ISSP) terbilang mutiara termegah dan terindah, dengan harga termahal serta memiliki ukuran terbesar. Kilaunya tak lekang waktu layaknya pesona keelokan Putri Laut Selatan yang abadi. Mutiara ini puncak kesempurnaan mutiara sejagat. Genusnya yang tersohor Pinctada maxima yang dijuluki ”Ratu” semua tiram, penghasil Mutiara Laut Selatan yang terbaik. Varietasnya terdiri dari silver dan golden, bagian mukjizat Palung Laut Banda.

Sejarah pengenalannya bermula dari sekitar tahun 1800-an, bertepatan Staatblad masa Pemerintah Hindia Belanda tentang perikanan yang pertama yakni pengelolaan tiram mutiara dan terumbu karang. Waktu itu saudagar bernama Said Badila asal Banda Neira memberitahukan pada Ratu Emma di Belanda, bahwa dijumpai mutiara sebesar telur burung merpati yang lantas dianggap Mutiara Laut Selatan terbesar di dunia.

Lalu, pada tahun 1921, Dr Sukeo Fujita melakukan penelitian yang didanai oleh Mitsubishi di Pulau Buton, dengan memakai tiram mutiara Laut Arafura (Kepulauan Aru). Penelitian itu selanjutnya membuahkan hasil budidaya Mutiara Laut Selatan pertama kali pada tahun 1928. Sejak periode itu sampai tahun 1938, lantas Mitsubishi membuka perusahaan mutiara di Indonesia bernama Nanyo Sinju KK, sebelum akhirnya dihentikan lantaran perang hingga tahun 1970.

Usaha budidaya berlanjut kembali seusai perang, dengan memakai kerang alam sampai tahun 1990. Sempat terjadi resesi saat 1998 yang diwarnai penjarahan. Dari sini, Indonesia menjadi produsen terbesar dunia, namun nilai jualnya peringkat dua pada kurun 2005. Lalu, resesi terulang lagi tahun 2008 yang mengakibatkan banyak perusahaan gulung tikar, seiring penurunan kualitas air sebagai imbas global warming.

Keempat, artis-artis Hollywood mengoleksi perhiasan berbahan mutiara ini. Gaya hidup glamour kadung melekat pada diri umumnya pesohor dunia, dengan Hollywood sebagai sentrum yang bergelimang kemewahan. Itu bisa dilihat aksesori mutiara para artis perempuan Hollywood yang kerap terkesan mewah dan berbandrol fantastis. Siapa yang mengira bahwa perhiasan kelas atas itu berbahan Mutiara Laut Selatan.

Jika merunut sejumlah sumber, artis-artis Hollywood yang sempat memiliki perhiasan dengan Mutiara Laut Selatan antara lain Scarlett Johansson, Angelina Jolie, dan Kate Winslet. Selebriti berikutnya yang disebutkan Daryl Hannah dan Jacqueline Bissett ketika tampil di hadapan publik. Tercatat pula nama Ali Larter, bahkan Demi Moore yang memakainya. Maria Sharapova pun menyukainya.


Scarlett Johansson, memakai anting Yvel saat pesta peluncuran
Mango New Collection, berbahan emas kuning dengan kombinasi
turunan varietas emas Mutiara Laut Selatan Indonesia
dan berlian 1.18ct (sumber: www.yvel.com)

Mutiara Laut Selatan (Indonesia), adalah satu dari empat jenis mutiara di dunia. Berasal dari tiram mutiara laut, dengan genus Pinctada maxima bervarietas silver dan gold. Satu tiram hanya mengandung 1 butir mutiara. Ukuran cangkangnya bisa mencapai 30 cm. Dan jumlah produksinya 10-12 ton per tahun.

Akoya, merupakan jenis berikutnya, sama bersumber dari tiram mutiara laut. Genusnya Pinctada fucata, dengan satu tiram mengandung 1-2 butir mutiara. Ukuran cangkangnya bisa mencapai 10 cm. Negara penghasil mutiara ini Jepang dan Tiongkok, produksinya bisa menyentuh angka 20-25 ton per tahun.

Tahiti, jenis mutiara selanjutnya yang bergenus Pinctada margaritifera. Satu tiram hanya mengandung 1 butir mutiara, cangkang berukuran 25 cm. Dihasilkan oleh negara Tahiti dan Polinesia Perancis, bisa memproduksi 8-10 ton per tahun.

Mutiara Air Tawar, mutiara jenis terakhir, genus Hyrriop sis sp. Satu kerang bisa mengandung sampai 40 butir mutiara, masing-masing 20 butir di cangkang kanan-kirinya. Ukuran cangkang 10 cm. Negara penghasil Tiongkok yang bisa memproduksi ±5000 ton per tahun.

Ragam Jenis dan Mutu Produk Mutiara Laut Selatan Indonesia
Ragam jenisnya dibedakan berdasarkan ukuran, warna, bentuk, luster (kilauan) dan bintik/cacat (spot/flaw). Ukurannya terdiri dari sangat kecil (Keshi), kecil (Baby South Sea Pearl) berkisar 8-9 mm, our size seukuran 10-14 mm dan big size di atas 16 mm. Biasanya ukuran beratnya menggunakan satuan momme dengan perhitungan 1 momme setara 3,75 gram.

Warna secara garis besar meliputi Silver dan Golden. Warna Silver terbagi lagi, yaitu Pink dan White. Sedangkan warna White mencakup White, Silver dan Blueish. Corak warna Golden terdiri dari Gold dan Yellow. Warna Gold meliputi Gold dan Deep Yellow. Sedangkan turunan warna Yellow terbagi Yellow dan Cream/Ivory.

Bentuknya terkelompok menjadi Drop (Long, Medium, Short), Oval (Long, Medium, Short), Round/Near Round, Button (Thick, Medium, Flat), Barogue (Real dan Semi). Bentuk lainnya Ring/Circle, Trapesium dan Triangle. Sedangkan Luster (kilauan) mutiara ini bercorak High Luster, Medium Luster dan Low Luster (Dull). Dan bintik/cacat (spot/flaw) mutiara ini berwujud No spot, Few spot, A few spot dan Many spot.

Mutu produknya terklasifikasi kelas Top quality bersimbol ”Top quality”, dengan karakter No spot high luster. Lalu kelas Very good dengan simbol ”A” karakternya Few spot high luster. Berikutnya kelas Good, bersimbol ”B” dan berkarakter A few spot high luster. Ketiganya tergolong kualitas tinggi (Precious stone). Dan kelas Medium quality dengan simbol ”C”, berkarakter Some spot medium luster dan Many spot high luster.

Mutiaraku, Kerlip Harapan Generasi Bangsaku
Berkenaan dengan pemasaran kekayaan alam Indonesia tersebut utamanya mancanegara, Menteri Susi mencanangkan jurus mendorong promosi serta pengenalan produk-produk mutiara di pasar internasional. Dengan orientasi memperkuat branding Indonesian South Sea Pearls (ISSP). Antara lain turut serta dalam ajang pameran internasional Dubay International Jewelerry Week (DIJW). Termasuk even Indonesian Pearl Festival 2016 kali ini.

Upaya dan berbagai terobosan macam itu memang perlu dilakukan, sehingga Mutiara Laut Selatan semakin lekat di hati rakyat maupun pengguna di belahan dunia. Lebih dari itu, perlu diperhatikan pula agenda pelestariannya, lantaran keberhasilan budidaya mutiara secara alami hingga menelurkan produk terbaik dan bernilai tinggi, juga bergantung pada kondisi air laut. Terlebih mengingat, eksistensi mutiara adalah barometer laut yang lestari. 

Dengan begitu, pemanfaatannya menjadi berkelanjutan untuk kebutuhan terutama hajat hidup segenap rakyat mendatang. Bagaimana pun kerlip Mutiara Laut Selatan Indonesia adalah harapan generasi bangsa esok.

#6thIndonesianPearlFestival2016
Lanjutkan baca...

Kelucuan Desakan pada Bu Risma Nyagub di Jakarta



RISMA menjadi perbincangan aktual dalam beberapa hari terakhir. Lagi-lagi fenomenanya menyedot perhatian. Ibarat magnet yang kuat menarik, bahkan objek-objek nonmagnetik. Berapa pun rentang jaraknya, akan bergerak dan tertarik.

Bu Risma, begitu sapaan akrabnya, sudah amat lekat di ingatan masyarakat Surabaya umumnya. Mulai dari kalangan pejabat, stakeholder, hingga kaum pinggiran Ibukota Jawa Timur dan sekitarnya. Para murid-muri SD juga amat mengakrabinya.

Dalam tempo relatif singkat pula namanya melejit ke pentas nasional. Tentu jejak-jejak kiprah yang telah ditorehkannya sampai akhirnya mengemban amanah L1, tidak bisa dibilang sekejap. Dengan segala rintangan, tantangan, maupun sandungan yang menyertai.

Tak heran bila segelintir kalangan mengalihkan atensi padanya menjelang Pilgub DKI Jakarta kini. Mereka ngebet memintanya sudi menyebur di dalamnya. Berbagai rayuan gombal mereka lancarkan demi meluluhkan pendiriannya. Satu-satunya alibi, mereka sudah ogah melirik Om Ahok untuk nyalon lagi.

Ia tak girang mengamininya. Sejauh saya pernah nimbrung dalam forum yang menghadirkannya, ia bukan orang yang langsung ngiler disodori iming-iming macam itu. Baginya setiap jabatan berkonsekuensi komitmen, keseriusan, serta tanggungjawab yang tak bisa disepelekan. Meski kompensasinya menggiurkan.

Karena itu, dirinya berulangkali melontarkan penolakan. Ia tak pernah terpikir menjadi Gubernur DKI Jakarta, baru terpilih kembali sebagai Walikota periode kedua, masih banyak program yang kudu ia tuntaskan, dan pertimbangan-pertimbangan lain yang mestinya bisa dihormati semua pihak.

Orang nomor wahid di Surabaya yang telah mengupayakan berbagai perubahan bareng masyarakat itu pun, sempat mempertanyakan desakan padanya terkait Pilgub Jakarta, sebatas akal-akalan pihak tertentu yang menghendaki dirinya urung melenggang ke ajang Pilgub Jatim nanti. Mengingat ia memiliki kans besar untuk menjajalnya.

Namun, segelintir kalangan yang menggadang-gadangnya bertarung dengan Om Ahok juga pantang surut. Mereka terus pedekate pada beberapa elemen sosial Kota Surabaya, yang sekiranya bisa membuat dirinya berubah pikiran. Sejumlah media bahkan diam-diam ikut merayunya.

Mereka tak ambil pusing, upaya terus menyorong Bu Risma sebagai cagub DKI Jakarta, turut menimbulkan ekses yang tidak kondusif. Terutama kenyamanan masyarakat beraktivitas terganggu kehebohannya belakangan. Bukan mustahil pelaksanaan berbagai agenda juga tersendat. Ulah mereka pun terasa lucu.

Antara lain, ketika sekelompok orang mengatasnamakan Jaklovers meminta Bu Risma sebagai cagub DKI Jakarta belum lama ini. Seorang perempuan dari kelompok itu, entah koordinatornya atau apalah, sewaktu diwawancarai awak televisi menyatakan kurang lebih bahwa, mereka melakukannya untuk Indonesia lebih baik. Wuidih demi kebaikan Indonesia?

Jakarta memang berstatus Ibukota negara. Tempat jajaran pengendali urusan kenegaraan berkantor. Eksistensinya juga barometer Indonesia secara global. Tapi, mendesak Bu Risma terlebih ketika sedang dibutuhkan masyarakat Surabaya, untuk nyagub berdalih demi Indonesia rasanya terlalu sumir.

Eits, jangan dilupakan DKI Jakarta masih bersifat lokalitas bagian wilayah negara ini. Gubernurnya bukan sekaligus Presiden NKRI dan keduanya memiliki tugas, kewenangan, serta tanggungjawab berbeda. Justru mindset sentralistik demikian, sering menjadi awal fakta ketimpangan pembangunan antara Jakarta dengan pelbagai daerah selama ini.

Geliat segelintir politisi dan pegiat komunitas –dengan mengatasnamakan warga Ibukota– mendorong Bu Risma hengkang dari Surabaya, pun serasa kurang menghargai aspirasi masyarakat, guna menjaring cagub putra daerah sendiri. Di sisi lain, seakan kota megapolitan itu mengalami krisis figur kepemimpinan daerahnya, sekaligus cermin parpol-parpol gagal melangsungkan kaderisasi.

Lebih membikin tersenyum lagi, ketika petinggi tujuh parpol membuat ”Koalisi Kekeluargaan” terkini. Dengan menetapkan tujuh kriteria bagi cagub, antara lain beretika, yang akan mereka dukung. Ketentuan yang hanya ”abang-abang lambe” bahwa mereka ”talak tiga” dengan Om Ahok sebenarnya. Koalisi itu panggung politik mereka sendiri belaka.

Pada satu kesempatan liputan media televisi, di antara politisi koalisi itu secara inplisit sempat menyebutkan, Om Ahok tidak memenuhi semisal kategori beretika. Dikarenakan, sepak terjangnya sering ”tidak beretika” di muka umum. Kriteria yang bias dalam menerjemahkan etika ataukah etiket? Sedangkan unsur integritas tidak dicantumkan. Tapi, itulah politik, acap konyol dan menggelitik.

Yang perlu dipahami bersama, sejatinya tidak ada pro-kontra di masyarakat Surabaya berkenaan desakan pada Bu Risma untuk nyagub di DKI Jakarta sampai hari ini. Suara arek-arek Suroboyo bulat membutuhkan dirinya, tetap menunaikan tugas selaku Walikota sesuai masa jabatan yang telah ditentukan.

Aliansi perempuan dan ibu-ibu Surabaya menyuarakan kehendak serupa, yakni Bu Risma tetap di Surabaya dalam perkembangan mutakhir. Bahkan, murid-murid SD menangis nggandoli dirinya sebab khawatir ditinggalkan. Kalau pun seolah ada suara arek-arek Suroboyo yang menyepakati Bu Risma menjadi cagub DKI Jakarta, maka hal itu patut dipertanyakan.

Sekurangnya para sedulur meminta semua pihak agar menyerahkan pada Bu Risma untuk memutuskan sepenuhnya. Jangan mendesak apalagi memaksanya terus-menerus! Bagaimana pun bermacam desakan yang merebak, selain hanya ngeriwuki kerja Pemkot Surabaya berikut rutinitas masyarakat, keputusan yang didasari keterpaksaan juga akan percuma.

Upaya mempertahankan ”Ibunya” arek-arek Suroboyo itu bukan sikap primordial, bukan pula hendak mendewi-dewikannya. Melainkan, semata demi sekalian warga Kota Pahlawan menghirup semilir perubahan yang semakin melegakan bersamanya. Dan seluruh masyarakat Surabaya tentu percaya, Ibu Megawati sangat memahami hal tersebut.

Ilustrasi: Tempo
Lanjutkan baca...

Gaswat Syaikh Google Menghapus Peta Palestina?



SELASA malam kemarin, tayangan satu stasiun televisi swasta menampilkan running text rencana Kemenlu tentang peta Palestina yang hilang. Dalam perkembangan selanjutnya, media-media online merilis berita soal tampilan geografis negara Yasser Arafat yang diduga raib tersebut. Masalah itu pun gaduh dalam obrolan banyak kalangan, termasuk para netizen kemudian.

Fitur aplikasi Google Maps ndak mencantumkannya. Jika pengguna melakukan pencarian hanya akan mendapati penampakan kosong. Google menyampaikan bantahan atas tuduhan kesengajaan peniadaannya dan menegaskan ndak pernah ada ”Palestine” dalam pemetaan digital aplikasinya tersebut. Gaswat!

Hanya saja, pihak Google mengakui adanya kekeliruan. Terdeteksi label untuk Tepi Barat dan Gaza pada Google Maps memang hilang. Perusahaan raksasa itu menyatakan sedang berusaha memperbaikinya, sehingga bisa mengembalikan secepat mungkin ke tempatnya semula.

Lepas dari hal itu, adakah sesuatu di balik kegaduhan ini? Kala serentengan isu silih berganti menghentak di dalam negeri belakangan? Sensasinya langsung mengingatkan kampanye mantan Presiden Iran, Mahmoud Ahmadinejad, tentang kampanye penghapusan Israel dari peta dunia yang menghebohkan sekitar tahun 2010 silam.

Walau kemudian aliansi jurnalis Palestina (PJF) turut memprotesnya. Namun, isu raibnya peta Palestina kali ini rentan dimanfaatkan sumbu kompor mbleduk berlabel agama. Dengan begitu akan merebak pula keresahan yang bukan mustahil potensial menimbulkan perselisihan sosial.

Problematika seputar langgam Palestina memang laik mendapat perhatian dunia. Lantaran bukan sebatas ”konflik agama”, melainkan tragedi kemanusiaan yang masih saja terulang di sana. Ketika pelbagai kalangan dari sekalian penganut keyakinan yang berlainan di belahan dunia, juga menentangnya dengan keras. Itu bisa dirunut antara lain dari buku Hebron Journal catatan mutakhir aktivis perdamaian asal Amerika selama observasi secara langsung.

Terbayangkan betapa kecewanya para sedulur yang kadung sering menenggak ”pencerahan” agama secara bongkokan dari Google selama ini. Jangan heran, bila mereka yang telanjur begitu mempercayainya tak ubahnya ”syaikh” sebagai satu-satunya sumber mengunduh informasi keagamaan, juga geram kala menghadapi kenyataan Palestina suwung di Google Maps.

Dari sini, saya teringat saat adik mengirimkan capture, hasil telusur satelit Google Maps yang memotret dengan jelas ujung lorong jalan menuju rumah, lengkap dengan plakat nama lembaga pendidikan dan suasana rumah orangtua ayah pada tempat terpisah di kampung halaman. Tapi, ketika saya memintanya untuk mengaptur lebih dekat gedung sekolah-sekolah itu, ndak bisa sebab rupanya Google Maps hanya menjangkau objek yang terletak di pinggir jalan.

Apa yang saya pernah alami itu, mungkin relevan untuk memahami keterangan dari Kemenlu agar hilangnya peta Palestina jangan terlalu dipersoalkan. Toh data grafis Google Maps yang ndak memuat Palestina bukanlah peta resmi. Sementara, peta resminya bisa dilihat di PBB, meski negara itu belum menjadi anggota penuh di dalamnya.

Entah apakah penjelasan demikian bisa dimafhumi sehingga kegaduhan urung berkepanjangan. Apalagi, belum lama ini disusul dengan mencuatnya berita yang ndak kalah menghebohkan, tentang meninggalnya Manajer Akun Google, Vanessa Marcotte, dalam kondisi ndak wajar.

Ilustrasi: Dokumen Pribadi
Lanjutkan baca...

Baiat Jamaah Wedang Kopi



WEDANG kopi (hitam) telah amat familiar terutama bagi kaum lelaki di rumah. Mulai dari almarhum kakek, ayah, paman, saudara kandung, maupun para sepupu. Minuman kesukaan ini biasa menyertai di sela-sela rutinitas dan kebersamaan sehari-hari. Bisa dibilang tiada hari tanpa sajiannya.

Meski sebagian kami yang semula menggemarinya, tereliminasi dari jajaran ”ahlul qahwa” dalam perjalanannya. Ibarat kabinet pemerintahan, mereka terkena reshufflle jilid berikutnya. Seakan wedang kopi juga memberlakukan hukum seleksi alam. Di antara kami yang kemudian berhenti ngopi, karena lambung terasa mengalami sakit maag.

Antara lain ayah, tiga dari empat paman, satu adik serta beberapa sepupu lelaki. Kemudian yang tetap bertahan yaitu kakek, paman tertua, saya, beberapa saudara kandung maupun sepupu. Mereka yang ”angkat tangan” lantas kadang meminum wedang susu atau teh. Sisanya coba bertahan dengan hanya beralih posisi sebagai penyuka wedang kopi susu.

Rasa penasaran tak urung sering bergelayut, tentang awal kisahnya hingga kami bisa memiliki kegemaran yang sama. Bolehlah kemungkinannya lantaran kebiasaan turun-temurun. Namun, tetap saja pikiran dirundung pertanyaan. Terlebih setiap kami cangkruk bareng pada momen tertentu, semisal mudik guna merayakan lebaran di kampung halaman.

Nah, menjelang nenek meninggal beberapa tahun lalu, saya mendapat sedikit gambaran jawabannya. Waktu itu saya memberanikan diri nyeletuk bertanya padanya, dengan mengambil contoh generasi sebaya, mengapa cucu-cucu kakek menggandrungi wedang kopi bahkan sejak dini? Nenek lalu menuturkan bahwa kakek (wafat lebih dulu) hanya pernah bertutur, ”Rugi besar kalau cucu-cucuku tidak suka wedang kopi.”

Entah mengapa kami para cucunya dianggap akan merugi jika bukan penggandrung wedang kopi? Lalu, apa kerugiannya? Bukankah dengan tidak menyukainya, justru akan menghemat anggaran dapur, tanpa kudu belanja rutin gula dan kopi? Rasanya, dawuh kakek tersebut menyiratkan pesan tersendiri.

Kakek yang memang begitu lekat dengan unjukan ini, serasa memberi ”baiat” diam-diam. Sebut saja pembaitan ”ahlul qahwa”, sekurangnya jamaah wedang kopi. Ia sendiri adalah ”mursyid” yang doyan wedang kopi hitam pahit. Biasanya nenek menyediakan dalam gelas berukuran jumbo, dua kali sehari jika tiada tamu yang berkunjung. Tak ayal, mayoritas cucunya turut melakoninya, sekalipun tidak dibiasakan semasa kecil.

Cerita demi cerita pun lantas bergulir, setidaknya untuk sekadar menertawakan diri sendiri. Sembari belajar dari kakek untuk terus memupuk gairah saling berbagi, dengan sesama yang mereguk getirnya hidup sepahit bagian sensasi wedang kopi. Di antaranya, kakek sempat bertanya-tanya saat wedang kopinya sering cepat bocor pada satu kurun waktu terdahulu.

Siapa yang membikin wedang kopinya sering bocor, menjadi teka-teki cukup lama. Padahal, sebelumnya baik-baik saja. Hingga akhirnya satu hari, saya mengendap-endap hendak nyeruput wedang kopinya, saat ia sedang terlelap seperti biasanya. Saya bernasib nahas kali ini, karena sewaktu mengangkat gelasnya di meja samping pembaringannya, tanpa disadari lepeknya menempel. Ketika saya akan meminumnya, lepeknya terjatuh menimbulkan suara yang membuatnya kaget lantas terjaga.

Oalaaah, ternyata kamu pembocor wedang kopiku selama ini?” ujar kakek saat memergoki saya, dengan bias semringah di wajahnya. Saya hanya bisa nyengir dengan muka semerah kepiting rebus. Alhasil, misteri bocornya wedang kopinya terpecahkan dan sejak hari itu saya tidak bisa lagi nimbrung menikmatinya.

Pernah juga satu hari, kala ayah masih suka wedang kopi, mungkin karena haus sepulang dari sawah langsung menenggak minuman hitam dalam gelas yang tergeletak di meja. Ia baru menelan setenggak, lalu menyemburkannya kembali karena terasa aneh sambil bersungut-sungut. Adik bungsu saya telah menuanginya dengan banyak air, setelah jengkel tidak kebagian wedang kopi bikinan ibu.

Hidangan wedang kopi ”palsu” itu aslinya jebakan agar diminum adik saya lainnya yang dianggap telah menghabiskan sebelumnya. Tapi, ndilalah justru ayah yang menjadi ”korban”-nya. Adik saya yang mengintip dari balik pintu saat ayah menyesapnya, lalu kabur bersembunyi dengan cemas. Bahkan, ia selalu menghindari berpapasan dengan ayah.

Di kesempatan lain, ibu pemilik warkop (warung kopi) langganan sering curhat tentang sikap kasar putri sulungnya. Bahkan, ia kerap diperlakukan bukan layaknya ibu oleh anak kandungnya itu. Ia mengungkapkan kesedihannya setiap kali saya ngopi di malam hari, usai benar-benar terbebas dari urusan pekerjaan. Tak jarang ia berlinang airmata selama menyeritakannya.

Ia pun memilih tidur menginap di rombong lapaknya yang sempit ukuran panjang kurang 1 meter dan lebar sekitar 2 meter, bersama anak dari putrinya itu sesudah warungnya tutup. Saya hanya bisa mendengar keluh-kesahnya sepenuh empati. Lebih dari itu, saya menguatkan hatinya sembari menyarankan dirinya meminta Pertolongan-Nya, dengan istiqamah membaca doa Fatihah siapa tahu Gusti Tuhan mengubah sikap anaknya.

Tanpa diduga saya melihat wajah ibu berusia sekitar lima puluh tahun itu berseri-seri, kala saya ngopi lagi dua malam keesokannya. Ia mengisahkan kebiasaan putrinya tersebut berubah seratus delapan puluh derajat, sesudah dirinya rajin mendoakannya dengan bacaan Fatihah selepas shalat lima waktu. Anaknya menjadi santun dan memperlakukannya penuh hormat kembali. Tentu saya ikut bersyukur dan gembira.

Jika mengenang berbagai peristiwa lainnya yang sudah berlalu, nyeruput wedang kopi utamanya di luar rumah, memang seru dan seringkali tersisip hikmah yang berharga tanpa dinyana. Baik dari kejadian sekitar, percakapan sesama dan sebagainya ketika ngopi di warkop. Termasuk pelajaran sosial dalam menikmati pahit-manis keseharian.

Belum lagi, wedang kopi tercatat bagian gaya hidup orang-orang yang moncer kiprahnya. Tak sebatas para kiai tempo dulu, melainkan tokoh-tokoh beken yang turut berkontribusi mewarnai dinamika bangsa dan negara di era kekinian. Saya pun sesekali menemukan karakteristik unik dari sesama penggila minuman ini, antara lain bersikap terbuka, fleksibel, suka humor dan seterusnya. Tentu saja hal itu bukan generalisasi mutlak, kembali pada fitrah bawaan masing-masing.

Yang tak kalah menarik, wedang kopi booming sepanjang perkembangan mutakhir. Tengok saja antara lain dari interaksi pada situs jejaring sosial, geliat munculnya warkop-warkop baru di pelbagai tempat dan lain-lain. Bahkan, di kampung halaman saya yang terbilang pelosok, kini bermunculan tempat-tempat lesehan untuk ngopi dilengkapi koneksi wifi seperti di perkotaan.

Fenomenanya yang sedemikian populer, juga dikabuti kasus es kopi maut sebagaimana telah kita mafhumi saat ini. Terkesan rumit tak ubahnya kisah-kisah dalam novel besutan Agatha Christie atau Aoyama Gosho yang misterius. Apakah perlu ”coffee sense” guna segera mengungkap pelaku sebenarnya dan menuntaskannya yo? Seakan makin menegaskan, hidup memang tak selalu manis seperti yang diharapkan, kadang juga pahit bagaikan seduhan rasa wedang kopi.

Saya pribadi pun tak bisa memastikan sampai kapan laku ”tarekat” wedang kopi hot ini akan terus berlangsung, serta akankah saya benar-benar pantas disebut ”ahlul qahwa” dengan beragam kisah yang semakin menggairahkan nanti? Wallahu a’lam bish-shawab!

Ilustrasi: Kaskus
Lanjutkan baca...

Robohnya Mushala Bang Jack


HIKAYAT mengenai lakon Nabi Ibrahim as mencari Tuhan, sudah jamak bagi masyarakat terutama kaum muslim. Alquran sendiri mengabadikan cuplikannya yang bisa dibaca sampai kini. Sebuah kisah yang membelajarkan ber-Tuhan sebenarnya.

Umumnya kalangan memahaminya, pengalaman spiritual dari sang pengemban risalah. Laku penuhanan tanpa mencerabut fitrah manusiawi, yang memang tidak sertamerta selalu kuasa meresapi Ada-Nya yang transenden. Dengan begitu, penghambaan kita juga bakal tidak kesat dan dangkal, tapi senantiasa meresap dan menggemericik di relung kesadaran.

Lepas dari babak historis itu, SCTV menyajikan serial bernuansa religi yang menarik. Walau saat membaca judulnya bisa jadi membuat kita terpikir riwayat Nabi Ibrahim tersebut. Penayangannya yang kontinu hanya di bulan Ramadhan setiap tahunnya, serasa pula untuk mewarnai bulan suci hingga diharapkan lebih bermakna.

Apalagi kalau bukan program acara bertajuk Para Pencari Tuhan (PPT) yang menemani pemirsa, saban hari ketika makan sahur selama bulan puasa. Tayang pertama kali pada tahun 2007 silam. Dibidani oleh aktor kawakan beserta para sineas beken, sinetron produksi PT Demi Gisela Citra Sinema yang diselingi kuis ini menyedot perhatian khalayak luas.

Tanpa terasa usia pemutarannya memasuki satu dekade (Jilid 10) kali ini. Waktu yang tidak singkat untuk keajegan turut menyemarakkan Ramadhan, sembari dengan lebih enjoy dan menghibur berbagi hikmah tentang esensi puasa maupun beragama. Sejumlah kritik pelbagai kalangan atas penyajiannya justru membersitkan harapan publik terhadap sinekuis ini.

Bagaimana pun sinetron ini semata hiburan. Sekurangnya, taste kesederhanaan dalam menyampaikan pesan sosial-keagamaan, memberikan alternatif tontonan yang apik. Para sedulur tentu sesekali masih terkenang bagian-bagiannya dari Jilid Perdana sampai Sembilan tho? Nah, sekilas catatan berikut mungkin bisa menjadi tombo kangen sejenak.

Jilid Satu, Prolog yang Menghentak
Cerita ini bermula dari tiga pemuda Barong, Chelsea dan Juki (trio komedian Bajaj) yang bingung sekeluar dari penjara, karena tidak diterima lagi di lingkungan asalnya. Termasuk setiap warung yang mereka jumpai tutup –di siang hari Ramadhan– selama menyusuri jalanan Ibukota tanpa tujuan, hingga akhirnya secara kebetulan sama-sama terhempas di mushala At-Taufiq dan bertemu dengan Bang Jack (Dedy Mizwar).

Entah disengaja atau tidak, pemilihan nama mushala At-Taufiq mengemas pesan yang menggoda. Taufiq berarti (restu) pemberian Tuhan, bekal awal yang seharusnya direngkuh jika ingin beroleh hidayah (petunjuk-Nya) menjalani titian pertobatan. Salah satu aktor utama, Bang Jack, sendiri mantan napi yang bertugas sebagai marbot (penjaga mushala) dan fanatik terhadap beduk. Ia menampung ketiga pemuda blangsak itu.

Bang Jack sejatinya menemani belaka ketiganya guna menemu Tuhan, mengingat wawasan lelaki itu juga minim. Peran demikian yang sering terlewatkan, saat tidak sedikit orang cenderung rumangsa laik menjadi juru dakwah, meski pengetahuannya kentara terbatas dewasa ini. Beruntung ia dibantu Aya (Zaskia Mecca) yang paham agama. Gadis tersebut adik ipar Ustadz Ferry (Akri Patrio) yang menjabat ketua pengurus mushala dan merasa tersaingi oleh bininya, Haifa (Annisa Suci Wulandari).

Jilid perdana sinetron ini bisa dibilang pembuka yang menghentak, dengan mengisahkan titik balik tiga pemuda itu ditemani Bang Jack entas dari kegelapan masa lalu. Kisahnya makin seru diwarnai romantika Aya dan Azzam (Agus Kuncoro) teman semasa bocah yang berkelok. Ditambah pemeran hansip yang akrab disapa Bang Udin (Udin Nganga), temannya Asrul (Asrul Dahlan) dan Pak Jalal (Jarwo Kuat) yang terkenal paling kaya di kampung.

Jilid Dua, Alur yang Mulai Menggelitik
Upaya insaf tiga mantan napi bareng senior mantan napi, Bang Jack, itu berlanjut dengan gambaran pasang-surut keberagamaan masyarakat umum. Dikisahkan sang marbot memulai proses suksesi kepengurusan mushala. Ia mengajari ketiga juniornya menjadi imam shalat secara bergiliran, selain manajemen kegiatan mushala yang melibatkan warga sekitar.

Pada sisi lain, hubungan Aya dan Azzam belum menampakkan titik terang ke arah yang serius, meski keduanya lantas menjalin kerjasama bisnis penerbitan buku. Masih banyak perbedaan di antara mereka berdua. Belum lagi, kedekatan mereka kemudian memanas sebab kehadiran orang ketiga yang ndilalah sahabat mereka sendiri bernama Kalila (Artta Ivano). Aksi tokoh-tokoh lainnya pun tak kalah menggelitik dalam menyuguhkan pesan moral yang berguna.

Lebih-lebih kala muncul tokoh anyar, Baha (Tora Sudiro), pelaut bertato dan pemabuk yang menambah nuansa berbeda dalam sinetron ini. Ia teman masa kecil Asrul yang bertemu kembali saat kapalnya berlabuh di pelabuhan terdekat. Jilid Dua ini pun rasanya mengesankan spirit beragama Bang Jack beserta ketiga pemuda tersebut sedang pasang, bahkan perlu ”mencari Tuhan” sampai ke Tanah Suci dengan beribadah haji.

Jilid Tiga, Kejutan Tak Diduga
Rampung menunaikan haji kehidupan sang marbot cs memasuki episode baru, tentu juga problematika baru. Di satu pihak, Bang Jack ketagihan naik haji. Fakta sekaligus problem yang acap mengemuka seputar pelaksanaan rukun Islam kelima sejauh ini. Di pihak lain, Udin dan Asrul tergiur status haji mereka hingga ingin mengecap pengalaman serupa, walau dalam keterbatasan ekonomi.

Sementara, warga kampung menggelar hajatan pemilihan pengurus RW yang melibatkan para tokoh termasuk Baha yang ikut berperan lagi. Baha diam-diam menaruh hati pada Kalila, gadis yang juga bagian cinta segitiga antara Azam dan Aya. Menariknya, pelaut yang masih lekat dengan imej pemabuk itu ternyata kaya. Sebelum kematiannya ia menyumbangkan sebagian harta miliknya ke Baitul Mal, sisanya untuk membantu biaya Asrul naik haji.

Jilid Empat, Ujian Mencari Tuhan
Ketika gairah ”pencarian Tuhan” sedang bergelora, ujian menyapa pula masing-masing tokoh dalam sinetron ini. Seiring dengan perubahan kehidupan mereka. Antara lain Bang Jack terjangkit sindrom lanjut usia, merasa kesepian dan semakin mendekati ajal. Ia berubah menjadi pribadi yang sensitif dan –meminjam istilah kekinian– lebay, karena akan mati tanpa didampingi siapapun bahkan ketiga ”anak buahnya” yang selalu bersamanya.

Disusul cobaan bagi Pak Jalal yang bangkrut dan jatuh miskin akibat ulahnya sendiri, hingga terpaksa menumpang tinggal di gubuk Asrul kemudian. Asrul yang semula paling miskin di kampung, justru perlahan sukses berkat usaha kulinernya. Hanya saja, bisnisnya yang maju pesat berdampak pada aktivitas ibadahnya. Serasa mirip dengan kisah sahabat Nabi, Tsa’labah, pada zaman dulu.

Udin membeli motor dari uang tabungan yang semula untuk biaya ke Tanah Suci, sebagai kendaraan ngojek demi memperbaiki taraf hidup keluarganya. Ia juga berharap dapat mengumpulkan ongkos pergi haji. Tapi, ia dirundung keraguan inisiatifnya tersebut membuahkan hasil sesuai harapan.

Azam dan Aya juga diuji Tuhan kala mereka menikah akhirnya. Pada awal pernikahan mereka harus menjalani perjuangan yang tidak ringan, lantaran perbedaan karakter yang masih dalam penyesuaian walau saling mencintai. Ujian rumah tangga mereka semakin rumit, dengan hadirnya manajer keuangan yang cantik di kantor mereka.

Warga kampung pun mendapat ujian tersendiri. Ketika seorang warga bernama Bonte menemukan koper misterius yang diduga berisi uang. Barang tersebut lalu memicu perselisihan bahkan pertengkaran di antara sekalian pelakon sinekuis ini. Berbalut drama politis Trio Pengurus RW berikut serentengan dampaknya. Lebih parah lagi, saat akhirnya koper itu dibuka ternyata isinya bukan uang.

Jilid Lima, Ketika Mushala Sepi
Rentetan kejadian ujian penemuan Tuhan” dalam jilid sebelumnya berefek terhadap eksistensi mushala. Tempat ibadah itu tampak kian sepi. Kondisi tersebut dimanfaatkan Trio Pengurus RW, guna menuding Bang Jack telah gagal mengurusnya, setelah ketiga muridnya terusir. Dirinya lantas dilengserkan dari jabatannya sebagai marbot dan kepengurusan beralih ke Trio Pengurus RW selanjutnya.

Celakanya, tiga sekawan pengurus RW menjadikan mushala lahan komersil untuk mendatangkan keuntungan. Selain memaksakan setoran infak dan sedekah, mereka juga mengomersialkan kuburan Baha dengan menyebar isu sebagai makam keramat, demi mengundang banyak orang datang. Bang Jack maupun Ustadz Ferry tak berdaya menyikapinya.

Bersamaan itu, para pemain yang lain terbelenggu urusan masing-masing. Udin menghadapi gugatan cerai istrinya, Mimih Herlina (Irma De Vanty). Masalah itu mengundang simpati Asrul selaku teman, untuk coba membantu. Tapi, usahanya justru memperuncing hubungan keluarga sahabatnya tersebut. Pak Jalal juga tengah asyik menjalani ”kesufian” dalam kesederhanaan hidupnya.

Pasangan suami-istri Azam dan Aya pun larut dalam penantian kehadiran bayi, setelah Aya mengalami keguguran. Hal itu membuat ibu Azam, Widya (Henidar Amroe), memilih tinggal bersama mereka. Kehadiran perempuan tersebut menarik perhatian Bang Jack. Sedangkan tiga pemuda eksponen marbot tengah merintis cita-cita bersama. Mereka berjuang hendak membentuk grup band atau pelawak.

Jilid Enam, Alur Hidup yang Terbolak-balik
Kisah genre komedi religi ini berkelok menggemaskan, kala menceritakan kehidupan pemainnya yang serasa terbolak-balik. Itu bisa dirasakan semisal pada hidup Pak Jalal yang awalnya cukup mapan, lalu jatuh miskin dan moncer lagi sebagai pebisnis dan konsultan bisnis. Uniknya, ia tetap mendiami gubuknya dan enggan tinggal di rumah mewah. Ia bahkan menyimpan uangnya hanya di koper.

Sama halnya Barong, Juki dan Chelsea yang menangguk popularitas sebagai artis sinetron dan kehidupan mapan untuk persiapan menikah. Namun, mereka tidak selalu mendapatkan keberuntungan yang sama dalam urusan lain. Seperti realita yang harus dihadapi Juki, ketika calon istrinya tiba-tiba mengurungkan niat menikahinya.

Berkebalikan seratus delapan puluh derajat dengan Asrul yang menghadapi kenyataan pahit setelah berstatus haji. Sepulang dari Tanah Suci, usahanya justru bangkrut. Fenomena macam itu sebenarnya terserak di masyarakat, bahwa kebanyakan jamaah haji akan diuji sekembalinya ke kampung halaman. Segaris dengan pilihan Aya yang banting setir menanggalkan kariernya untuk kemudian menggeluti peran sebagai ibu rumah tangga.

Di bagian lainnya, Bang Jack, yang sedang kesemsem pada Widya harus menempuh perjuangan yang berat. Pasalnya, setiap kali ia melamar, perempuan itu selalu menolak. Pada saat bersamaan, Wijoyo (Slamet Rahardjo), duda pensiunan pejabat sekaligus teman kuliah Widya muncul sebagai saingan. Lebih-lebih keduanya sempat saling jatuh hati dulu, sehingga membuat Bang Jack kudu berjuang lebih keras.

Yang bikin geli, para sesepuh kampung dipusingkan oleh kebiasaan baru para warga yang keranjingan Facebook dalam keseharian. Persoalan itu lantas menuai reaksi Ustadz Ferry yang mensinyalirnya sebagai kiamat kecil di kampung mereka.

Jilid Tujuh, Riak-Riak Masalah
Masalah kampung bertambah pelik saat Ketua RW, Pak Idrus (Idrus Madani) mengalami stres. Para warga mengganggap lelaki itu terjangkit gangguan jiwa, sehingga perlu dilakukan pemilihan Ketua RW anyar. Belum lagi, kala Bang Jack kedatangan anak gadis salah seorang keponakannya, bernama Difa yang dititipkan kepadanya untuk belajar mengaji.

Gadis tersebut merasa lingkungan barunya kampungan dan membosankan, untuk kemudian membujuk para warga melalui Bang Jack sehingga kian menggilai Facebook sebagai bagian gaya hidup kekinian. Di pihak lain, trio mantan ”murid” Bang Jack sedang menapak puncak karier mereka. Barong dan Chelsea sudah berumah tangga, sedangkan Juki hidup bersama orang tua tirinya.

Lantas, bagaimana dengan keluarga Azam dan Aya? Mereka berdua fokus dengan program anak. Selain Azam menggarap proyek penerbitan buku agama bersama Ustadz Ferry, yang kemudian terpaksa menarik kembali semua rilisannya, lantaran terdapat kesalahan penulisan ayat dan mengakibatkan kerugian besar. Asrul sendiri menekuni pekerjaan tukang bekam, sesuai ilmu yang diperolehnya sewaktu naik haji.

Jilid Delapan, Misi Penyelamatan Iman
Mantan senior marbot, Bang Jack, ternyata batal mati. Ia yang semula berharap meninggal ketika tengah shalat –usai patah hati mendengar kabar pernikahan Widya dan Wijoyo– justru pusing lantaran terlalu lama tertidur dalam sujudnya. Warga kampung juga sempat bersedih mengira dirinya wafat, saat menemukannya bersujud sekian jam lamanya. Tapi, mereka takut menyentuh tubuhnya hingga aparat kepolisian datang. Bukan hanya itu, orang-orang pun telah menggali kuburan untuknya.

Di kemudian hari, saudaranya bernama Uwa Yongki (Otis Pamutih) datang menyambanginya, untuk memberitahukan anaknya, Domino (Alfie Afandi), hendak pindah agama. Saudaranya meminta dirinya memberikan bimbingan pada keponakannnya tersebut. Bang Jack lantas pergi ke kota menemui keponakannya yang mengontrak di pemukiman urban dalam rangka misi penyelamatan iman.

Elemen sosial hunian barunya itu, kebanyakan pekerja yang sibuk memburu duit. Pada satu kesempatan, Bang Jack shalat di mushala daerah tersebut, ketuanya ustadz berpenampilan gaul dan supersibuk, hingga menyerahkan pada tiga pengurus. Bang Jack terkejut mendengar bacaan shalat ketiganya tidak fasih ketika menjadi imam shalat. Alhasil, ia diminta memberikan bimbingan terhadap mereka, lantas ditunjuk sebagai marbot sekaligus imam cadangan. Kehadirannya pun mengundang was-was masyarakat setempat.

Jilid Sembilan, Problematika Belum Berakhir
Masyarakat kampung Kincir, masih terdera problem silih berganti. Selalu ada saja persoalan yang mendera para warganya dalam keseharian. Asyiknya, masalah bukan kesialan bagi mereka, namun penegasan Tuhan atas kesempurnaan ajaran-Nya dalam upaya mengatasi problematika kehidupan.

Pada titik ini, di antaranya dikisahkan Azam yang sangat terpukul dengan kematian anaknya. Ia terpuruk dalam rasa bersalah mendalam dan kesedihan yang berlebihan. Tanpa disadari ia pun mempertanyakan Tuhan yang sudah menetapkan takdir getir bagi keluarganya itu. Beruntung kesadarannya tergugah akhirnya.

Inilah untaian perjalanan spiritual ”Para Pencari Tuhan” yang dibabarkan sepanjang Jilid Satu hingga Jilid Sembilan tayangan sinetron komedi religi yang mengasyikkan. Rangkaian kisah yang menampilkan proses panjang ikhtiar ”menemukan Tuhan” yang berliku sealur pasang-surut dalam gelombang ujian hidup. Bahwa upaya demi mendekati-Nya tidaklah instan, melainkan harus benar-benar dinikmati bukan sebatas dijalani selama hayat di kandung badan.

Jika disimak lebih seksama, beberapa kritik sosial-keagamaan yang tersisip dalam sinekuis ini patut menjadi perhatian kolektif masyarakat. Antara lain, plotnya mengalirkan fenomena ”robohnya mushala Bang Jack mengingatkan pada novel Robohnya Surau Kami karya A A Navis yang maknyus. Saat kalangan muslim, disadari atau tidak, menjauh dari ruang pedekate kehadirat-Nya, hanya demi mengejar kenikmatan dunia bergelimang materi. Bang Jack sendiri tetap ”meninggalkan mushala At-Taufiq, walau ia menjadi marbot mushala di tempat barunya.

Waba’du, sebagai tontonan hiburan, sinetron macam ini kiranya mendedahkan kemaslahatan dalam menyegarkan geliat keberagamaan dan sosial masyarakat, sembari membumikan Islam yang rahmatan lil alamin.

Referensi bacaan dan ilustrasi: Para Pencari Tuhan-SCTV
Lanjutkan baca...

Pandangan Pertama Tak Terlupakan Bersua Grand Livina



LANGIT pagi yang cerah, saya mengantar adik berbelanja ke pasar tradisional. Saya tidak ikut masuk karena lalu-lintas di luar amat macet. Ruas jalan provinsi depan pasar dipadati kendaraan dari kedua arah. Saking padatnya, terutama moda roda empat sebentar bergerak, lalu terhenti cukup lama. Banyak pengunjung termasuk saya, kerepotan mencari area parkir.

Padahal, saat itu bukan hari pasaran. Sepertinya mulai waktunya arus balik lebaran. Para pemudik yang tersisa, masih berdatangan dari luar kota hari itu. Berimbuh masyarakat setempat yang berkendara, hendak bersilaturahmi ke rumah kerabat atau pun ziarah. Tak pelak, jajaran kepolisian yang disebar, kewalahan bertugas mengurai kemacetan.

Nah, di sela-sela menunggu adik selesai dengan belanjaannya, satu mobil kinyis-kinyis mengalihkan pandangan. Rasanya saya belum pernah menjumpainya di jalanan. Terbesit tanya dalam benak, apa mobil itu keluaran terbaru? Apa pabrikan yang menelurkannya? Saya jadi tertarik untuk bergegas hendak menengok, setelah memarkir kendaraan dengan aman.

Tampilan luarnya begitu menggoda untuk kelas MPV pada umumnya. Apalagi, dengan polesan warna abu-abu rada gelap. Posisinya berjarak lumayan jauh dari tempat saya berada. Karena itu, saya harus menyelinap di antara kerumunan orang-orang agar bisa menghampiri dan mendapatkan angle tentang mobil itu dengan sejelasnya.

Usaha mendekatinya tetap saja tidak mudah lantaran ramainya suasana. Apalagi, setiap kali langkah kian dekat, mobil tersebut lalu bergerak saat ruang jalan di depannya melonggar, sehingga kudu mengejarnya lagi. Saya hampir menyusulnya andaikan mobil yang mencuri perhatian itu, tidak melesat sesudah benar-benar terbebas dari kemacetan.

Yang berhasil teringat baik-baik, penggalan label ”Grand Liv...” dan logo bernuansa chrome sebentuk lingkaran bolong, dengan tulisan melintang horisontal di tengah, pada sisi belakangnya. Tak lama kemudian adik menelpon. Ia sudah rampung berbelanja. Akhirnya saya balik ke tempat parkir, mengambil kendaraan dan menjemput adik untuk pulang.

Sepanjang perjalanan, mobil itu masih terbayang-bayang. Kendaraan yang sangat ideal baik desain, postur, maupun hal lainnya. Cocok untuk kaum muda dan sebagai tumpangan keluarga. Entah akankah saya berkesempatan menemukannya lagi? Itulah awal kisah melihatnya semasa pulang kampung, dengan rasa penasaran yang mengendap hari demi hari. Benar kata orang, pandangan pertama sulit dilupakan.

Beberapa waktu kemudian, saya diajak bibi berkunjung ke rumah anak lelakinya di Bandung untuk satu keperluan. Ceritanya, kakak sepupu menggelar tasyakuran menjelang keberangkatan istri dan ibunya tersebut menunaikan ibadah haji. Betapa saya merasa surprised setiba di tempat. Satu mobil terlihat dengan manisnya di halaman depan, seakan menyambut kedatangan saya.

Warna bodinya yang berbeda yakni kecoklatan. Perhatian saya langsung tertuju pada bagian belakangnya. Tampak merk dengan tulisan ”Grand Livina” dan simbol lisensi bertuliskan ”NISSAN” di garis tengah lingkaran. Setelah memperhatikannya seksama dan mengingat-ingat kembali, saya amat yakin mobil tersebut memang varians dari kendaraan yang pernah saya temukan sebelumnya.

Rupanya kakak ipar juga terpikat dan belum lama memboyongnya dari dealer. Pandangan saya pun tak lepas dari mobil itu sekian lama. Eksteriornya benar-benar menawan. Ditopang lampu depan dan grille yang elegan. Interiornya terasa nyaman berbalut jok yang lembut. Ruang kabinnya cukup lega. Dashboard, pemutar musik dan perangkat lainnya pun dinamis.

Desah mesinnya ramah di kuping. Sistem keamanannya juga telah memadahi. Antara lain sabuk pengaman untuk penumpang, airbag sekitar kemudi bila sewaktu-waktu terjadi benturan keras dan sebagainya. Khayalan diam-diam bergeliat, memilikinya untuk sarana menjalani aktivitas bersama keluarga sehari-hari. Dan walau dua kali perjumpaan itu telah lewat beberapa tahun silam, tapi masih segar dalam lembar ingatan.

New Grand Livina
Rekaman memori serasa berputar ulang, saat berhembus kabar Nissan Motor Indonesia meluncurkan Grand Livina anyar kini. Tentu rilisannya lebih menyegarkan. Produsen mobil asal Jepang itu, menawarkan berbagai kenyamanan dan keamanan di dalamnya, yang akan membuat kalangan penggemar MPV semakin klepek-klepek nanti. Dengan lima warna pilihan: biru, hitam, merah, putih dan silver.

Itu bisa dirasakan mula-mula dari desain eksteriornya. Lampu depannya yang dilengkapi Foglamp untuk penerang, dipadu grille bercorak stylish, hingga kian manis dan elegan. Pengguna akan leluasa menikmati perjalanan bersama keluarga di malam hari maupun suasana berkabut. Rodanya dibalut velg yang elegan. Dengan mengendarainya sebagai mobil berkelas dan harga terjangkau, juga menambah rasa percaya diri.

Grand Livina paling gres ini juga menampilkan buritan yang semakin apik, dengan lampu berdesain futuristik. Beragam sentuhan baru lain pada sisi belakangnya pun, termasuk High Mount Stop dengan LED, begitu selaras dan menggemaskan. Dari sini, totalitas eksterior terbarunya boleh dibilang bertambah ciamik demi kepuasan masyarakat luas.

 

Lalu, bagian interiornya mengusung konsep ”Dimension that Fits All” menjadi begitu memesona. Kentara berkesan aerodinamis dan kestabilan berkendara tak ubahnya sedan. Ruang kabinnya amat lapang untuk kenyamanan penumpang maupun akomodasi barang. Semisal bawaan anak-anak berupa sepeda, kotak pakaian bayi dan sebagainya yang ingin dibawa dari rumah.

 

Kursi penumpangnya yang didesain lembut terdiri tiga baris, dapat menampung keseluruhan lima sampai tujuh orang. Tempat duduk baris kedua dan ketiga bisa dilipat sesuai kebutuhan. Dilengkapi seat belt agar pemakai menikmati perjalanan dengan aman dan nyaman. Pada sisi samping kabinnya juga tertanam peredam suara, hingga kian senyap dari kebisingan luar.


Berikutnya, dashboard pada Grand Livina kali ini tak kalah elegan berpoles warna gelap. Fitur-fiturnya lengkap semisal Drive Computer Tachometer, analog dan 2 Gauge Meter yang terpasang. Selanjutnya juga tersedia panel Power Window Switch, berikut kantong buku pada sisi pintu pengemudi. Dan pemutar musik yang canggih berlayar sentuh.

Nissan Motor Indonesia pun tetap berkomitmen mengupayakan jaminan safety untuk besutan anyarnya periode ini. Antara lain sistem pengereman EBD, BA dan ABS guna mengamankan perjalanan secara maksimal. Ditambahkan pengaman berupa Dual SRS Airbag di sisi pengemudi dan penumpang kursi depan, yang otomatis mengembang bila terjadi benturan keras dari arah depan.

 

Tak hanya itu, dipasang Rearview Camera utamanya tipe HWS untuk melengkapi keamanannya. Dengan sorotan kamera belakang ini, pengguna bisa melihat langsung apapun di belakang kendaraan. Pemanfaatannya baik selama mobil bergerak di jalanan, maupun ketika akan parkir. Fitur ini sangat membantu terlebih bagi pengendara yang masih belum lihai memarkir di antara mobil-mobil lain.

 

Varians teranyar dari segmen Grand Livina ini pun memikat, lantaran performa mesinnya juga semakin greng. Berupa mesin baru HR15DE 1500cc menghasilkan tenaga pacu yang boleh diandalkan. Mesinnya yang juga Dual Injector dan Twin VTC (Intake dan Exhaust), menjadikan kombinasi antara performa mesin dengan efisiensi bahan bakar yang kian optimal.

 

Dengan kata lain, Nissan Grand Livina Mobil Pilihan Keluarga ini adalah jawaban kebutuhan tumpangan bereksterior dan interior maknyus, performa mesin prima, serta bandrolnya tak menguras isi kocek yang memberikan sensasi perjalanan bersama yang lapang, nyaman, dan aman. Lebih-lebih menjelang tradisi mudik lebaran sebentar lagi, demi menyambut hari-hari kemenangan bareng keluarga besar di kampung halaman.


Referensi bacaan dan ilustrasi: Nissan Motor Indonesia
My Youtube
Lanjutkan baca...