Showing posts with label Kuntum. Show all posts
Showing posts with label Kuntum. Show all posts

Musim Kepalsuan


ANDAI blog ini manusia seperti kita, mungkin ia sedang galau merana tingkat awang-awang, karena saya tinggalkan sekian lama yo? Hampir setahun terakhir saya ndak berbagi cerita lewat tulisan bersamanya di sini.


Untung saja ia hanya media, sehingga ndak bakal cemberut atau mencak-mencak. Ia tentu memahami, lantaran saya menulis di ruang lain. Dengan harapan tulisan saya akan semakin kaya rasa di kemudian hari. Bagaimana pun ia sangat mengenal karakteristik torehan saya yang tumbuh bersamanya sejak awal. Ia juga bisa memaklumi, hanya saking asyiknya ndak terasa saya meninggalkannya selama berbulan-bulan. Sama halnya ketika saya larut dalam keasyikan menikmati buku, hingga kadang enggan beranjak dari tempat duduk.


Jadi, ia ndak akan berprasangka aneh-aneh walau mungkin ia cemburu. Sebab, ikatan yang terjalin antara saya dengannya asli, bukan palsu dan semoga terhindar dari segala bentuk kepalsuan selamanya. Itu pun seandainya ia manusia seperti kita. Cukup jendela browser yang berubah sekarang. Biasanya ketika saya tengah indehoy bersamanya, tertera D’n Ans Hoki™, namun berganti alamat url kini. Aku rapopo.


Omong-omong, momentum yang masih relevan bila mengobrolkan seputar fenomena ”Palsu” kali ini. Tema obrolan itu begitu menghangat sepanjang perkembangan terkini. Orang-orang juga sempat heboh membicarakannya di pelbagai tempat. Baik di rumah, tempat cangkruk, ruang kerja, bahkan di kantor-kantor pemerintahan. Dan tentu sampean boleh ikut nimbrung atau menambahkan komentar nanti.


Ruang kehidupan, sebagaimana kita ketahui dan rasakan, begitu pengap hingga menyembulkan bermacam pertanyaan dalam benak. Seiring merebaknya banyak hal palsu akhir-akhir ini. Bukan hanya sejumlah barang yang ditemukan palsu, tapi juga muncul asupan pokok sehari-hari yang diduga palsu. Uang palsu, batu akik palsu, beras palsu (beras plastik atau beras sintetis), ijazah palsu, dan sebagainya. Tiba-tiba keberadaan saya dan sampean terasa dikerumuni bermacam produk bahkan panganan yang serbapalsu.


Inilah realita hari ini, sejalan musim kepalsuan tiba. Musim yang turut menebar wabah demam ”Palsu”, media massa khususnya televisi juga ikut menyiarkan secara luas. Dalam waktu relatif singkat bermunculan pemberitaan tentang apa-apa yang berbau palsu. Selain hal-hal palsu yang telah saya sebutkan, awak layar kaca tampak latah memberitakan hingga akta nikah palsu. Mudah-mudahan ndak semakin merembet pada objek-objek lainnya, karena dampaknya bisa gaswat.


Begitulah yang terjadi di musim kepalsuan, seperti musim buah-buahan. Tapi, saya ndak ingin menyebutnya zaman kepalsuan. Sebab, itu akan mengesankan keluhan. Lagi pula kejadian demikian pernah mencuat pula di masa-masa terdahulu. Beras palsu yang diduga berbahan plastik misalnya, ternyata sempat ditemukan serta cukup mengguncang pemerintahan almarhum Eyang Soekarno dulu.


Sebagaimana diceritakan oleh Opa Ridwan Saidi, budayawan sepuh Betawi yang penampilannya khas berpeci hitam dengan rambut putihnya, dalam acara dialog televisi belum lama ini. Bedanya, temuan beras plastik saat itu adalah beras asli yang dicampur remik-remik plastik. Mungkin seperti nasi jagung, olahan beras dibauri biji jagung yang sudah digiling. Kemunculannya diduga sebagai bagian intrik politik. Dengan begitu adanya barang palsu bukan hanya terjadi sekarang.


Hanya saja, kadang dengan beberapa istilah lain untuk mengonotasikannya di era-era sebelumnya, antara lain tiruan atau imitasi. Konotasi tersebut biasanya pada sepatu, ikat pinggang dan sejenisnya yang seharusnya berbahan kulit asli, tapi ndilalah bukan. Walau dengan model dan corak warnanya yang sangat mirip, sehingga kerap mengelabui para konsumen yang ndak terlalu paham. Masih segar dalam ingatan pula, ketika masyarakat Surabaya dan sekitarnya tempo dulu, memakai sebutan ”tembakan” untuk sederet barang yang tampaknya asli namun palsu (aspal).


Taruhlah aneka barang elektronik semisal kipas angin, televisi, VCD player dan semacamnya yang dipasarkan hanya ”menembak” merk dari perusahaan besar asalnya. Kadang dengan menambah atau mengurangi satu-dua huruf dari merk aslinya, sehingga jika ndak jeli akan mendapatkan barang yang kualitasnya jauh dari produk yang sebenarnya. Palsu-memalsu demikian masih terulang, bahkan dengan modus yang semakin canggih seperti kenyataan miris belakangan ini. Dan rasanya musim kepalsuan senantiasa akan mewarnai kehidupan sampai akhir zaman.


Praktik macam itu tentunya disebabkan beragam hal, setidaknya dua penyebabnya. Semula kiranya bagian dari efek lanjutan dari mentalitas suka menerabas. Dalam hal ini, Eyang Koentjaraningrat pernah mengungkapkan dalam bukunya yang berjudul Kebudayaan, Mentalitas dan Pembangunan (1983), tentang masyarakat yang gampang dihinggapi perilaku suka menerabas dalam pembangunan. Tingkah polah yang mengambil jalan pintas dalam mencapai keinginan, meski dengan menerabas pranata sosial maupun ketentuan hukum positif.


Wujudnya telah sering dijumpai pada keseharian. Demi pencapaian tertentu, orang-orang menghalalkan segala cara dengan terabas sana-sini. Pertimbangan kemaslahatan terlebih menyangkut kepentingan sesama kerap diabaikan seenak udel sendiri. Bahkan, pengabaian yang terus berulang kemudian seakan ndak memedulikan hajat hidup orang banyak. Orientasi meraup keuntungan yang juga diimpikan akan membuahkan gelimang kekayaan dalam sekejap yang selalu dijadikan tolok ukur kesuksesan, lagi-lagi merupakan hal terpenting.


Efek turunan mentalitas suka menerabas tersebut lantas bersenyawa dengan kecenderungan pemenuhan beragam kebutuhan secara instan. Bukan rahasia lagi, masyarakat cenderung konsumtif hingga acap terkesan meremehkan persoalan mutu, kebermanfaatan dengan skala prioritas, bahkan keselamatan diri. Seolah-olah pokoke kebutuhan terpenuhi, urusan lain-lain mah belakangan.


Keduanya tanpa disadari lalu menautkan permintaan dan suplai. Polanya yang berlangsung lama membuat antara baik dan buruk, maslahat dan mudarat serta benar dan salah; dalam banyak hal pada gilirannya mengesankan sulit dipilah. Jangan heran, bila turut memacu antara lain ihwal dan keluaran barang-barang palsu selanjutnya. Dengan perkataan lain, serangkaian fakta mengenai apapun yang beraroma palsu, sejatinya berawal dari perbuatan kita sendiri yang kemudian menjadi mentalitas. Entah sampai kapan akan berhenti, ketika ”revolusi mental” pun digaungkan sebagai jargon pemerintahan Jokowi kini. Ujung-ujungnya bisa jadi sampean ini asli atau palsu? Hayooo...
Lanjutkan baca...

Lampung Butuh Pemimpin Responsif


Dimuat dalam Harian Lampung Post, 30 April 2014

AJANG pesta demokrasi pemilihan Gubernur Lampung rampung. Pergelarannya berbarengan dengan Pemilu Legislatif serentak awal bulan ini lalu, usai sempat mengalami tarik-ulur sekian lama. Siapa pun sosok gubernur anyar beserta wakilnya yang akan menahkodai Lampung lima tahun mendatang, selayaknya bisa diterima oleh sekalian kalangan. Kepemimpinan yang mendapat legitimasi rakyat tentu lebih efektif menjalankan roda pemerintahan dan mewujudkan program-program yang dijanjikan sejalan impian khalayak luas dalam atmosfer yang kondusif.

Lampung rasanya memerlukan sentuhan ikhtiar progresif dalam berbagai aspek termasuk kehidupan lapisan sosialnya. Masih tersisa sederet ”pekerjaan rumah” yang hendaknya digarap lebih serius lagi di bawah kendali pemegang tampuk kekuasaan yang baru. 

Fakta Unik
Dalam kacamata umum, terlebih bagi perantau seperti saya, tak dipungkiri wilayah yang juga menjadi gerbang Pulau Andalas ini memendam potensi utamanya sumber daya alam yang memikat. Sejak menapakkan kaki pertama kali hingga bulan-bulan terakhir mengemban tugas kerja di bagian zona administratifnya, hati langsung terpikat dengan suasananya yang terbilang unik.

Keunikan itu bisa dirasakan antara lain, sebagian besar daerahnya yang masih lekat dengan nuansa bebukitan, laut dan lingkungan yang relatif menghijau. Ditambah ronanya yang bercorak kota-desa pada batas yang tidak terlalu jauh. Bandar Lampung, misalnya, ketika melintas di kawasan Raden Intan dan sekitarnya akan terasa suasana metropolis. Tapi saat bergeser ke Sukarame semisal area belakang kampus IAIN Raden Intan dan sekelilingnya yang bisa ditempuh kurang dari setengah jam, bakal menjumpai petak-petak sawah yang baru panen. Belum lagi, hasil buminya yang menggiurkan.

Lalu, kancah pergaulan masyarakatnya yang tampak kian majemuk dan hidup berdampingan dengan harmonis. Adat-istiadat serta dalam hal-hal tertentu rumpun bahasa ibu yang masih cukup terpelihara dengan baik.

Geliat dunia bisnis terutama masyarakat lapisan menengah ke bawah, juga menggugah harapan besar di kemudian hari. Ragamnya terus bermunculan dan berkembang dengan keunikan tersendiri. Jika pemerintah dan masyarakat bersinergi dalam kerjasama yang apik, bukan mustahil denyut perekonomian Sai Bumi Ruwa Jurai akan tumbuh pesat menyaingi provinsi-provinsi tetangganya. Apalagi, mengingat geografisnya sebagai pintu lintas Sumatera jelas amat strategis. 

Sejumlah Pekerjaan Rumah
Dari sini, tersisa serangkum pekerjaan rumah yang seharusnya lekas ditangani oleh rezim periode ini. Mulanya terkait dengan infrastruktur yang menopang kegiatan pemerintahan berikut perekonomian daerah serta masyarakat seluruhnya.

Masalah infrastruktur tersebut juga mencakup perbaikan maupun pemeliharaan jalan. Coba tengok jalan rusak di jalur sebelah bilangan Pramuka, Rajabasa, yang konon diperbaiki baru-baru ini. Lalu, jalan kawasan Tirtayasa-Sukarame yang sungguh memprihatinkan. Disusul jalanan dalam Jati Agung dari rute masuk perempatan dekat Polsek Sukarame-Way Halim. Itu pun belum terhitung jalan-jalan wilayah lainnya yang mendesak untuk dibenahi.

Corak geografis daratan Lampung dengan karakteristiknya yang unik, juga meniscayakan usaha penataan wilayah dan pemukiman yang semakin maknyus. Sebab, bisa jadi perkembangannya esok akan turut menggugah ketertarikan investor guna membuka lahan bisnis sekaligus menarik warga rantau dari berbagai penjuru tanah air untuk mengadu nasib. Perlu diingat, penyediaan ruang terbuka hijau (RTH) jelas tidak bisa terabaikan demi kelestarian lingkungan.

Selanjutnya, berkenaan dengan masalah pemadaman listrik. Sampai hari ini, masih terjadi listrik mati secara bergiliran sewaktu-waktu. Bahkan, tak jarang kebijakan PLN ini berlangsung hingga berjam-jam lamanya. Jelas persoalan tersebut ikut membuat kegiatan usaha yang akan mendulang pendapatan daerah menjadi tersendat-sendat.

Upaya peningkatan keamanan yang meliputi seluruh Lampung menjadi prioritas tugas berikutnya. Yang tak kalah penting, jaminan sosial yang semakin melegakan publik. Termasuk di dalamnya kesempatan mengenyam pendidikan bagi kalangan tidak mampu, layanan kesehatan untuk warga miskin, serta penyediaan lapangan kerja. Tak ketinggalan penguatan civil society guna menyokong pembangunan yang sejati. Persoalan tersebut harus terakomodasi nyata dalam kebijakan pemerintah sesuai amanah konstitusi dan peraturan perundang-undangan.

Alhasil, menelisik serangkaian fakta dinamika yang terus berkembang tersebut, Lampung membutuhkan pemimpin yang responsif ke depan. Yakni, pemimpin yang sigap dalam merespon segala perikehidupan rakyat berikut problematika kekinian yang mengitarinya mengingat kepemimpinan demikian juga menjadi fundamen demokrasi (hakiki), sebagaimana pandangan Donald Kagan bahwa, demokrasi hanya mampu menciptakan negara yang berkeadilan ketika memiliki desain kelembagaan politik yang mapan, masyarakat yang mempraktikkan kebebasan demokrasi, dan kepemimpinan responsif. Jadi, pemimpin yang sungguh berperan selaku Khadim al-Ummah, pelayan rakyat. Bukan penguasa yang sebatas berorientasi kepentingan pribadi maupun golongan. Selamat bekerja!

Lanjutkan baca...

Menjadi Orang Tua dengan Hati


La Tahzan for Parents
Penulis : K.H. Dindin Solahudin
Penerbit : Mizania, Bandung
Cetakan : I, Desember 2008
Tebal : 244 halaman

ANAK merupakan "kado" manis Tuhan utamanya bagi pasutri yang telah mengidamkannya sekian lama. Tentu suasana rumah tangga akan bertambah taste dengan tangis, canda, serta aksi jenakanya. Maka, patut disyukuri hadirnya mengingat banyak pasangan menikah yang berepot ria demi mendapatkannya. Upaya pedangdut goyang ngebor, Inul Daratista, yang sempat menjalani proses bayi tabung setelah bertahun-tahun belum dikaruniai momongan, hanya sebuah tamsilnya.

Ungkapan syukur itu sepantasnya pula tercurah melalui komitmen merawatnya dengan sebaik-baiknya. Walau praktiknya dirasa lumayan ribet dan melelahkan. Apalagi, ketika biaya hidup terus mahal sejalan kian susahnya mengais rezeki seperti kini. Sementara, perkembangan anak secara azaly berpotensi masalah, konflik, serta tantangan. Belum lagi, atmosfer sosial lingkungan sekitar derap abad informasi-teknologi kekinian terasa sering dahsyat mendedahkan efek samping.

Saking hebohnya mendampingi anak (-anak), membuat banyak orangtua merasa kewalahan. Lebih-lebih jika urusannya menyangkut gelagat umumnya anak dan (atau) ABG jaman sekarang yang terkesan "bejibun maunya" dalam berbagai hal. Sebagian besar orangtua lantas dirundung perasaan kesal, sedih, frustasi, atau pun apatis. Bahkan, seringkali dijumpai bapak-ibu yang ringan tangan mencederai hingga merampas nyawa buah hatinya sendiri hanya gara-gara persoalan sepele. Alamak!

Pada arasy itulah karya berumbul La Tahzan for Parents ini lahir turut menguarkan spirit yang adem. Sebagaimana pengantar si penulis; buku ini khusus disiapkan untuk mencoba membuka mata; melapangkan dada, memompa ghirah dan memfasilitasi segenap orangtua dalam memainkan peranannya serta membesarkan hati para ayah-bunda tatkala mendapat tekanan. Bersamaan itu, sekalian orangtua diarahkan agar menikmati fungsinya penuh suka-cita.

Bab demi babnya menjelentrehkan seputar dinamika keorangtuaan. Dimulai dengan upaya pemaknaan peran orangtua, pemahaman tingkah polah anak, dan cara menyikapinya. Berlanjut penjabaran pola sikap orangtua mengasuh anak-anaknya dengan mendiskusikan amarah, amanah, nafkah, ibadah, akidah, harmoni, rahasia, ghibah, pubertas, rongrongan luar, doa, serta munajat.

Dengan bahasa yang merakyat, bacaan ini mengerami senarai pelajaran berdasar eksplorasi kaidah Islam secara apik, dipadu serangkaian kisah teladan semasa para Nabi beserta Sahabat atau orang-orang salih maupun cerita pengalaman sendiri. Lalu digenapi pandangan tokoh filsafat dan pendidikan Barat seperti Plato, Thomas Aquinas, Lewis B. Smedes, Dr. Richard Bereden dan lainnya.

Lebih menarik lagi, buku ini mencoba ngudar relasi antara orangtua dan anak yang cenderung mengalami pasang-surut melalui perspektif kedua pihak. Anak dipandang pula sebagai partner atau mukhatab, yang terbuka kemungkinan memiliki kompetensi melebihi pengalaman ayah-bunda. Prinsip keteladanan pun lebih ditekankan ketimbang pengasuhan bercorak punitif serampangan.

Tercatat pula serangkum ibrah yang sangat urgen dicamkan orangtua maupun calon ayah-ibu. Antara lain, pentingnya menahan kemarahan apalagi sampai memuncratkan semacam kutukan yang dapat berakibat fatal terhadap langgam kehidupan anak nanti. Dari sini, menurut hemat saya, legenda Malin Kundang kiranya jangan sebatas digeneralisasi peringatan keras atas kedurhakaan seorang anak kepada orangtua (ibu), tapi juga hendaknya dipahami betapa orangtua harus menjaga ucapan dan senantiasa mengampuni kekhilafan anak.

Ihwal penting berikutnya, yakni mengupayakan nafkah halalan thayyiban sesuai tuntunan syariat untuk anak, meski sering kekurangan. Sebab, diiyakan atau tidak, perilaku (mengesalkan) anak sebenarnya juga bergantung asupan yang diberikan kepadanya. Bisa ditebak kontaminasi pemanfaatan barang konsumsi dari fulus hasil suap, korupsi, dan sejenisnya terhadap cikal kepribadian anak.

Yang tak kalah penting, orangtua dituntut istiqamah meneladankan refleksi kesalihan pribadi maupun kesalihan sosial kepada anak. Figur ayah-ibu yang beakidah murni begitu kukuh, sregep beribadah, serta bersolidaritas mengagumkan jelas ikut amat berpengaruh positif membentuk karakter anak. Begitu juga sebaliknya. Dan orang tua berkewajiban pintar menyimpan rahasia.

Buku ini sempat pula menyentil pengaruh siaran televisi yang tak selamanya kondusif bagi anak. Misalnya, tayangan kompetisi talenta vokal AFI (Akademi Fantasi Indosiar) dulu atau Indonesian Idol yang masih tayang di televisi beberapa waktu lalu. Rasanya, sama halnya tontonan Idola Cilik yang sampai detik ini sedemikian menghegemoni terutama kalangan bocah, perlu dicermati oleh berbagai elemen masyarakat. Termasuk maraknya acara infotainment yang mengobral ghibah tentang sekelumit lelaku privasi ke ruang publik.

Ringkas kata, berpredikat ayah-ibu merupakan kepercayaan luar biasa yang dimandatkan Tuhan, sehingga tak perlu terlalu berharap penghormatan dari anak. Orang tua kudu ikhlas ngopeni anak dengan memberikan yang terbaik. Perkara menghadapi kesulitan ekonomi dalam membiayainya, sungguh Tuhan Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. Ikhtiar mengurus dan mendidik anak juga selayaknya direalisasikan bergaya "sersan" (serius tapi santai) lewat metode yang menyenangkan laiknya games sepenuh perhatian, cinta, serta kasih sayang; dengan fokus pada proses bukan hasil belaka.

* salah satu paket kado sebagai Pemenang Utama Resensi Buku Mizan
Lanjutkan baca...

Pentingnya Keahlian bagi Siswa SMA


ADA kabar cukup menggembirakan terkait dengan gagasan Diknas Surabaya yang berencana mewajibkan program keahlian bagi siswa SMA (Jawa Pos, 6 Desember 2005). Alasannya, ternyata banyak siswa SMA yang setelah lulus memutuskan untuk langsung mencari pekerjaan. Program tersebut diharapkan dapat membekali siswa dengan ragam ketrampilan. Dengan begitu, kelak bila siswa tidak berkeinginan melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi, dia siap berebut pekerjaan atau justru membuka lapangan kerja sendiri.

Diknas juga akan memberikan wewenang kepada sekolah-sekolah untuk menjalin partnership dengan perusahaan-perusahaan yang berperan mentransfer berbagai keahlian kepada siswa. Tampaknya, Diknas amat yakin bahwa aplikasi program tersebut bisa turut mencerahkan prospek masa depan para generasi muda. Terutama menyangkut kemudahan atas upaya pemenuhan kebutuhan berpenghasilan secara layak bagi segenap siswa pascalulus sekolah.

Gagasan soal program keahlian itu seharusnya terlaksana sejak lima tahun silam. Tepatnya ketika arus globalisasi memicu semakin sengitnya kompetisi mendapatkan pekerjaan bagi kalangan alumnus lembaga pendidikan formal maupun informal, khususnya di Surabaya. Minimnya lapangan pekerjaan yang tersedia dan bejibunnya jumlah lulusan lembaga pendidikan setiap tahun mengakibatkan proses seleksi terhadap pencari kerja amat ketat.

Lebih-lebih, hingga kini umumnya instansi atau perusahaan seakan hanya memprioritaskan calon pekerja yang freshgraduate atau telah berpengalaman bekerja. Sekurangnya target rekrutmen sebuah perusahaan selalu lebih tertuju kepada lulusan yang telah memiliki keterampilan dasar pada posisi yang dibutuhkan.

Tentu persyaratan yang ditentukan oleh instansi atau perusahaan macam itu mustahil bisa dipenuhi sebagian besar lulusan sekolah. Utamanya mereka yang selama mengenyam pendidikan belum dibekali dasar keterampilan yang memadahi. Fenomena tersebut kerapkali menjadi "bom waktu" atas peningkatan jumlah pengangguran dari kelompok tanaga kerja produktif.

Sementara itu, diakui atau tidak, lembaga pendidikan formal (sekolah dan perguruan tinggi) sering kalah bersaing –dalam menyiapkan calon tenaga kerja yang kualifaid– dengan lembaga kursus yang selama ini pertumbuhannya bagaikan jamur di musim hujan. Itu disebabkan, lembaga kursus lebih mengedepankan praktik kepada para peserta didik, sejalan dengan tuntutan kualifikasi instansi atau perusahaan penyedia lowongan pekerjaan.

Implikasinya, terbukti para lulusan kursus lebih mudah diterima dan berkesempatan mengisi jabatan strategis di perusahaan tertentu. Sementara itu, lulusan yang berlatarbelakang pendidikan formal terpaksa harus rela antri di urutan berikutnya, meski mereka telah mengantongi ijazah paling rendah tingkat SMA. Itu pun jika bernasib mujur memperoleh panggilan tes wawancara.

Pada saat bersamaan, terjadi pergeseran paradigma para lulusan sekolah soal pilihan kuliah atau bekerja. Jika sebelumnya mereka lebih memilih meneruskan pendidikan ke perguruan tinggi agar mudah mendapatkan pekerjaan, sekarang kebanyakan lulusan memilih bekerja dulu baru kuliah atau bekerja sambil kuliah. Mereka berpandangan, kuliah pada masa sekarang sekadar menambah titel dan keinginan kuliah lebih mudah direalisasikan –asal punya cukup biaya– daripada mencari pekerjaan. Dalam kondisi dilematis, lulusan sekolah cenderung menempuh studi di sebuah lembaga kursus agar bisa menyerap seperangkat keterampilan parksis dalam kurun waktu relatif singkat dibandingkan kuliah.

Dengan kata lain, modal keterampilan atau keahlian mutlak dimiliki oleh setiap lulusan yang siap bekerja selepas tamat sekolah atau kuliah. Tanpa adanya keterampilan yang bisa diandalkan, dapat dipastikan mereka akan tersisih dari bursa lapangan pekerjaan. Tentunya mereka sulit meraih kesukseskan yang diinginkan.

Untung, Diknas berpikiran progres untuk menjembatani masalah di atas dengan memunculkan gagasan mengenai program keahlian bagi siswa SMA. Kendati bisa dibilang agak terlambat dan masih sebatas wacana, namun gagasan itu perlu disambut dan diwujudkan. Apalagi, upaya pencapaian tujuan idealisme pendidikan ke arah "memanusiakan manusia" terasa absurd bila ditempuh melalui pengembangan ranah kognisi, afeksi, dan psikomotor siswa secara parsial.

Sebagaimana taksonomi tujuan pendidikan formal menurut Prof. Dr. Benyamin Bloom bahwa ketiga ranah tersebut tidak bisa dipisahkan satu sama lain. Logikanya, tingkah laku setiap individu (siswa) lazimnya diawali dengan pengetahuan, kemudian sikap, dan lalu berbuat. Pada gilirannya, pendidikan sekolah perlu pula mengusung orientasi pragmatisme, yakni adanya jaminan perolehan pekerjaan bagi seluruh alumninya.

Seiring dengan itu, beberapa masukan kiranya perlu disampaikan dalam menyikapi penerapan rencana program Diknas tersebut. Pertama, pemberian keahlian laiknya tidak melulu bersifat akademik seperti kompetensi bidang administrasi (umum dan perkantoran), akuntansi, sekretaris, kenotariatan, dan sejenisnya. Tapi, keahlian yang diberikan hendaknya juga bertolak dari pentingnya eksploitasi potensi bakat siswa semacam keterampilan seni (musik, olah vokal, koreografi, lukis, hasta karya, bahkan teater), linguis, jurnalistik, grafis, enterpreneur, dan sebagainya.

Kedua, proses transformasi materi keahlian diusahakan tidak mencerabut eksistensi siswa dari ikatan sosio-kultural lingkungan sekitarnya. Jangan sampai keterampilan yang ditanamkan hanya mengiming-iming siswa dengan gebyar nan glamouritas potret dunia metropolitan. Sebaliknya, bagaimana dengan keahlian yang diperoleh itu, siswa menjadi anggota komunitas yang semakin peduli untuk memberdayakan segala aspek muatan lokal yang meliputi potensi alam dan relasi kancah sosialnya.

Ketiga, siswa yang dinyatakan telah berhasil mengikuti program keahlian berdasar parameter penilaian yang ditetapkan mestinya berhak memperoleh sertifikat yang dilegalisasi bersama antara sekolah, instansi atau perusahaan rekanan, dan Diknas. Sertifikat tersebut sangat berharga sebagai referensi penunjang kompetensi siswa manakala mengajukan lamaran pekerjaan, sekaligus akan menjadi pertimbangan yang menentukan penerimaannya di tempat kerja.

Keempat, Diknas dapat berperan sebagai mediator kerjasama antara sekolah dan instansi atau perusahaan terkait untuk menyelenggarakan aktivitas magang bagi siswa. Sangat diharapkan, kontrak itu benar-benar mencerminkan bergainning position yang menguntungkan semua pihak serta mencakup tentang kepastian rekrutmen dan jaminan perlindungan hukum bagi siswa.

Dimuat di halaman "Opini Metro" Harian Jawa Pos, 21 Desember 2005
Lanjutkan baca...

Zakat dan Tantangan Kemiskinan


Kemiskinan merupakan masalah kronik bangsa ini yang tak kunjung tuntas. Meski telah berganti-ganti pemerintahan, upaya mengurangi tingkat kemiskinan belum menunjukkan hasil yang signifikan.

Dari berbagai data yang sudah seringkali diungkap melalui media massa, alih-alih kemiskinan berkurang, justru jumlah masyarakat miskin di Indonesia cenderung meningkat. Apalagi dalam kondisi negara tengah terancam krisis ekonomi akibat penyelundupan, maka kelangkaan dan naiknya harga BBM seperti sekarang ikut memicu peningkatan angka kemiskinan.

Entah, apakah problem kemiskinan memang sedemikian rumitnya, sehingga berbagai langkah untuk mengatasinya seolah selalu menemui jalan buntu. Lebih memalukan lagi karena mayoritas penduduk Indonesia memeluk agama Islam, agama yang notabene sangat concern memerangi kemiskinan. 

MASALAH KEMISKINAN 

Jika dirunut dari perspektif ekonomi, kemiskinan di negara kita bisa disebabkan beragam faktor. Seorang pakar ekonomi Barat, Boyle, pernah mengemukakan analisis tentang hal itu dengan menggambarkan konfigurasi perekonomian Indonesia sebagai duo ekonomi. Yaitu, corak perekonomian yang ditandai pemusatan distribusi hasil ekonomi pada segelintir orang di satu pihak dan kelangkaan distribusi hasil ekonomi pada kebanyakan orang di pihak lain. Kesenjangan antara dua kelas ekonomi tersebut kemudian mengandaikan penyebab timbulnya kemiskinan, terutama ketidakberdayaan atas pemenuhan konsumsi yang dialami oleh kelas kedua.

Secara empiris fakta pembagian hasil ekonomi yang tidak merata antara kelompok kaya dan miskin tak terbantahkan. Umumnya golongan “the have” yang didukung dengan aneka fasilitas kekuasaan, akses jaringan informasi dan komunikasi, serta kepemilikan modal lebih banyak memiliki kesempatan untuk menyerap distribusi hasil ekonomi sebesar-besarnya. Sedangkan kelas the poorman dengan segala keterbatasannya kerapkali tidak dapat menikmati distribusi yang memadahi.

Alquran telah menyebutkan secara tegas bahwa dalam harta kekayaan orang yang hidup berkecukupan terdapat hak orang yang hidup berkekurangan. Ketidakmerataan distribusi hasil ekonomi di antara dua kelas ekonomi sebagaimana tercermin dalam istilah duo ekonomi pola perekonomian negara, berindikasi kuat terhadap merebaknya kemiskinan. Pertanyaannya, apa solusi yang bisa ditempuh untuk meminimalisasi masalah kemiskinan, khususnya bila mengacu pada pedoman Islam? 

ISLAM MEMERANGI KEMISKINAN 

Islam –sebagaimana agama lain– adalah agama yang luhur. Dikatakan demikian apabila Islam senantiasa mengobarkan spirit pembelaan terhadap golongan masyarakat lemah dan tertindas. Keluhuran Islam amat bergantung pada aktualisasi value pemerdekaan umat dari segala bentuk ketidakadilan, penindasan, dan masalah kemiskinan. Islam sangat tidak menghendaki kemiskinan global yang melingkupi sebagian besar umat. Dan karena itu, semua muslim mengemban amanah memerangi kemiskinan.

Dalam Alquran (107:1-3) ditegaskan, “Tahukah kamu siapa yang mendustakan agama? Merekalah yang mencampakkan anak yatim dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin.” Pada bagian lain Alquran juga dengan tegas mengecam penumpukan harta kekayaan oleh segelintir orang. Dinyatakan, “Celakalah orang yang menyebarkan fitnah dan mengumpat, yang mengumpulkan kekayaannya dan menimbunnya, karena mengira kekayaannya akan mengekalkannya. Sama sekali tidak! Ia akan dilemparkan ke dalam Hutamah. Apakah Hutamah itu? Ialah api Allah yang dinyalakan, yang merasuk ke dalam hati, menutupi mereka seperti kubah dengan tiang-tiang menjulang” (Q.S. 104:1-4).

Pemaparan tamsil Alquran di atas meniscayakan integrasi keyakinan Islam melalui manifestasi perilaku mayoritas muslim, yakni perang terhadap kemiskinan. Bagaimana pun mengumbar kekafiran yang timbul akibat kemiskinan atau pun pemiskinan ekonomi, lebih berbahaya daripada memberi kebebasan orang-orang kafir (nonmuslim) dalam turut serta merajut harmoni hidup bersama yang berkeadilan sosial secara universal. 

BERZAKAT MENGENTAS KEMISKINAN 

Lantas bagaimana Islam berempati memperjuangkan upaya pengentasan kemiskinan? Untuk menjawab pertanyaan itu, sebenarnya Islam mempunyai instrumen yang kalau dijalankan dengan benar dan sejujurnya akan cukup efektif untuk mengangsur tingkat kemiskinan. Instrumen itu adalah zakat.

Sebagaimana telah diinformasikan dalam Alquran dan hadits, zakat merupakan kewajiban menyisihkan sebagian harta menurut takaran (nishab) dan limit waktu tertentu (haul) yang pemanfaatannya diperuntukkan bagi delapan kelompok kaum dhuafa (kalangan lemah ekonomi). Galibnya, zakat wajib dikeluarkan setahun sekali seiring dengan kewajiban berpuasa Ramadan seperti sekarang. Waktu pembayarannya dimulai selama bulan Ramadan hingga terbit fajar menjelang pelaksanaan shalat Idul Fitri.

Berbeda dengan amalan menafkahkan harta di jalan Allah seperti infaq, shadaqah, hibah, dan lainnya; zakat diatur dengan ketentuan khusus yang bisa menimbulkan konsekuensi tertentu bila diabaikan. Sekadar contoh, jika seseorang menunaikan zakatnya setelah shalat Id, maka amalan itu tidak dapat disebut sebagai zakat melainkan shadaqah atau istilah yang lain. Secara otomatis orang itu belum menggugurkan kewajiban berzakat. Konsekuensinya, puasa yang telah dilaksanakannya sebulan Ramadan terpaksa ditangguhkan.

Sayangnya, aturan zakat belum diterapkan sepenuhnya. Kebanyakan kalangan muslim memahami aturan berzakat secara konvensional, bersandar pada pengetahuan dari kebiasaan yang berlaku di suatu lingkungan sosial. Implikasinya, masyarakat baru sebatas menunaikan zakat fitrah dengan takaran kurang lebih dua setengah kilogram beras. Andaikan masyarakat mengeluarkan zakat maal, itu pun nilainya dikurs dengan harga beras untuk zakat fitrah.

Padahal aturan zakat cukup detail dan rada jelimet meliputi beragam jenis penghasilan dan harta kekayaan. Bentuknya pun sebenarnya tidak sekadar berupa zakat fitrah dan zakat maal, melainkan secara rinci pula mencakup zakat pertanian, peternakan, perdagangan, perhiasan, harta temuan (rikaz), kepemilikan badan usaha perorangan, zakat profesi dan sebagainya. Pelaksanaan jenis zakat itu juga tidak mesti menanti datangnya bulan puasa, tetapi harus dikeluarkan berdasarkan tahun buku (haul) operasionalisasi modal, pendapatan, dan kepemilikan sarana perekonomian.

Nah, dari sekian banyak pemilik perusahaan, pejabat dan kalangan profesi yang ada saat ini sudahkah melunasi tanggungan zakatnya sesuai dengan aturan yang fixed? Besar kemungkinan jika wajib zakat tersebut benar-benar telah memenuhinya berdasarkan koridor syar'i, kontribusinya dapat menekan tingkat kemiskinan secara perlahan. Perlu diingat, beban zakat itu tidak terhitung pajak yang dikenakan oleh negara atas semua sarana infrastruktur yang dinikmatinya. Karena itu, ke depan perlu diupayakan terobosan pengelolaan zakat yang lebih maslahah. Bukankah upaya demikian lebih diharapkan akan membebaskan fakir miskin dari belenggu kemiskinan? 

Dimuat di halaman "Opini & Tajuk" Harian Radar Surabaya, 27 Oktober 2005
Lanjutkan baca...

Risalah Jiwa untuk Boomberman


WAHAI saudaraku, di mana pun kau dan pengikutmu berada! Mungkin sekarang kau sedang bersenang setelah aksimu melancarkan teror bom Bali II yang tidak berperikemanusiaan itu berhasil membuat banyak pihak, terutama para keluarga korban, menitikkan airmata.

Aku ucapkan, “Selamat!” jika itu memang kau anggap sebuah kesenangan yang amat tidak menghargai selembar nyawa sesama makhluk Tuhan. Sesama gembala yang sama-sama ingin mereguk segarnya merumput di lembah milik-Nya.

Namun, ketahuilah saudaraku! Sampai kapan pun nafsu ammarah seperti itu takkan pernah kian mengukuhkan langkahmu menapak jalan (agama) Tuhan. Sebab, Tuhan telah mengatakan sendiri pada hatimu yang gulana itu bahwa harga selembar nyawa semahal kelangsungan hidup seluruh manusia.

Lalu bagaimana bisa kau tetap bersikeras melampiaskannya dengan mengacungkan nama Tuhan? Bukankah Tuhan tak memerlukan pembelaanmu? Bukankah kau belum tentu mampu membela kekhilafanmu sendiri di hadapan-Nya?

Maka, segera sudahi saja aksimu! Urungkan saja niatmu untuk melakukan aksi serupa itu! Belum cukupkah penderitaan korban silam yang berkepanjangan kini. Masih banyak hal terbaik yang bisa dilakukan demi tegaknya hidup penuh damai, adil, dan sejahtera. Itu pun jika jiwamu sungguh selalu merindukan kehadiran Tuhan sepanjang masa.

* Dimuat di kolom "Gagasan" Harian Jawa Pos, 14 Oktober 2005
Lanjutkan baca...

Hukum Seberat-beratnya Penyelundup Itu


POLISI berhasil membongkar penyelundupan minyak di Kalimantan Timur yang diduga melibatkan sejumlah oknum Pertamina. Kemudian, pada kamis malam Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) memanggil direktur utama dan petinggi Pertamina untuk diminta pertanggungjawaban. Terlihat jelas, betapa roman Presiden SBY sedang memendam geram.

Reaksi tersebut sangat wajar. Sebab, ketika pemerintah tengah kelimpungan mencari solusi terkait dengan kelangkaan BBM yang berimbas nyata pada keseharian masyarakat luas, di tempat lain terdapat segelintir orang –oknum Pertamina itu– secara diam-diam mengail di air keruh demi kepentingan sepihak yang bersifat pribadi.

Tindakan demikian dengan modus apa pun jelas sangat melukai penderitaan masyarakat sekaligus bisa dianggap sengaja menohok pemerintah dari belakang. Selain itu, jika dilihat dengan kacamata UUD 1945, BBM termasuk kekayaan alam untuk hajat hidup orang banyak yang sepenuhnya dikelola negara dan mestinya dimanfaatkan untuk kepentingan rakyat. Ketentuan itu tidak membenarkan penguasaan minyak untuk kepentingan individu, kelompok, bahkan institusi tertentu.

Dengan demikian, pencurian BBM oleh oknum Pertamina bukan sekadar aksi kriminal atau tindak pidana, tapi juga dapat dinilai melanggar UUD. Perorangan atau kelompok yang terindikasi melanggar UUD disebut makar terhadap negara. Jadi, sangat pantas bila para pelaku dihukum seberat-beratnya, bukan hanya pencopotan jabatan.

* Dimuat di kolom "Gagasan" Harian Jawa Pos, 13 September 2005
Lanjutkan baca...