RUMAH orangtua ibu di kampung, selalu ramai dengan
anak-anak kucing. Sejak dulu ketika saya masih tinggal bersama almaghfurlah
kakek-nenek, melanjutkan pendidikan SMP hingga sekarang. Pasti ada saja anak
kucing yang tiba-tiba mencungul, sebagai anggota baru keluarga meong di
rumah.
Biasanya cemeng-cemeng tersebut semula dibawa oleh bocah yang
belajar mengaji di surau terdekat. Dari rumahnya saat berangkat mengaji, bahkan
kadang setelah menemukan di tengah jalan. Itu penuturan anak-anak sebaya yang
lain. Saya pun ndak jarang memergoki sendiri.
Walau ndak sesering dulu lagi, karena pertumbuhan kucing
tampaknya juga menyusut, kejadian itu masih berlangsung sampai detik ini. Pernah
jumlah anak kucing anyar bisa lima ekor dalam bilangan hari terdahulu. Itu pun
belum terhitung meong usia abege serta dewasa.
Anehnya, meong-meong kecil tersebut, lantas betah menetap sampai
beranjak gede. Termasuk beberapa di antaranya yang sudah cukup usia. Padahal,
sumber makanan ndak semelimpah di rumah para tetangga sekitar. Jadilah gubuk
kami layaknya penampungan, bagi kucing-kucing di bawah umur yang terlantar, maupun
berumur yang minggat dari habitat asalnya.
Sampean bisa membayangkan, betapa ndak gampang
menampung sekaligus memelihara sejumlah anak kucing tho? Apalagi,
merawat para meong kecil tanpa induk. Bukan perkara bagaimana dapat memberikan
pakan yang laik untuk mereka, tapi lebih mengenai perhatian, utamanya bagi cemeng-cemeng yang sudah tersapih dan hidup tanpa induknya sejak dini.
Ketika sesekali kebetulan makanan untuk mereka ala kadarnya, hati ini
sangat merasa iba. Walau mereka ndak pilih-pilih asupan. Kadang hanya
dengan nasi putih saja, anak-anak kucing itu tetap melahapnya, hingga
seringkali kian menjentik perasaan ndak tega. Dari situlah justru gairah senantiasa bergeliat, guna sekadar menemani agar mereka bertahan hidup dengan hepi
yang sederhana.
Terakhir kali saat mudik beberapa waktu lalu, induk kucing piaraan
lama beranak tiga ekor dan sudah agak besar. Dua berbulu dasar putih dengan
belang abu-abu dan seekor lainnya berbelang hitam. Kala itu juga ada tiga anak
kucing baru dari luar. Masing-masing berbulu hitam sekujur tubuhnya, lalu putih
polos berbintik hitam di kepalanya, serta berwarna hitam dan abu-abu gelap.
Meong nomor dua dari kiri pada foto di atas itulah, salah seekor anak
dari kucing betina penghuni lama di rumah. Sedangkan tiga ekor lainnya cemeng
pendatang. Gambar tersebut saya abadikan ketika ndak sengaja menjumpai mereka sedang leyeh-leyeh bareng pada suatu siang di teras samping. Mereka terlihat begitu akur bagaikan saudara kandung.
![]() |
Meong nomor dua tersebut bersama saudaranya saat masih bayi |
Yang terasa menyejukkan, kendati mereka berbeda-beda, tapi selalu rukun
dalam persahabatan. Tiga anak kucing dari induk yang lebih dulu menetap itu,
begitu pula induknya sendiri, juga sangat welcome pada ketiga meong kecil baru
lainnya. Baik ketika makan, bermain dan menghabiskan waktu bersama sehari-hari.
Jika sudah diberi panganan, mereka biasanya kemudian saling bertingkah lucu.
Bercanda dengan berkejaran, bergulat dan seterusnya. Mungkin sebagai rasa
terima kasih pada siapapun yang telah berbagi dengan mereka. Ungkapan yang
seringkali ndak kalah melegakan ketimbang respon antarmanusia.
Momen kebersamaan anak-anak kucing yang berlainan muasal itu pun, kerap menjadi hiburan
tersendiri yang asyik. Saya jadi teringat pada kisah pascawafat Imam asy-Syibly,
ulama sufi Baghdad, oleh sahabatnya lampau. Sahabatnya menceritakan perbincangan
dengannya dalam mimpi, seputar amalannya semasa hidup, sampai dirinya mendapat
Penerimaan Gusti Tuhan begitu mendamaikan.
Inti ceritanya, nikmat yang diperoleh Imam asy-Syibly setelah meninggal
demikian, bukan semata karena ikhlasnya dalam beramal terdahulu. Bukan pula
lantaran sembahyang, puasa, haji dan ibadahnya yang lain. Ternyata juga bukan sebab
kegigihannya menuntut ilmu. Namun, bermula rasa kasihnya saat terpanggil untuk mengentas anak
kucing, yang lemah dan menggigil kedinginan di tengah perjalanan.
Hikayat itu tercatat dalam kitab Nashaihul Ibad; Nasehat-Nasehat
(bagi) Para Hamba yang pernah saya baca. Saya ndak muluk-muluk berharap hal yang sama. Jelas kapasitas
saya yang masih demen begajulan ini, ndak sa'uprit pun
bandingannya dengan tingkat kesalihan beliau. Ya, bagaikan langit dan bumi.
Namun, saya hanya ingin berbagi sembari belajar menyadari keberadaan mereka, bagaimana pun anak-anak meong adalah sesama piaraan Gusti Tuhan yang perlu dikasihi. Sekaligus memetik pelajaran tentang harmoni di tengah beragam perbedaan. Jika anak meong saja bisa menjalaninya, mengapa saya yang notabene makhluk-Nya yang lebih ”sempurna” ndak
bisa mempraktikkannya?
Ilustrasi: Dok.Pri